Part II: Masa-masa Pelik


"Naf,  ada Putri sama Via di depan, "
Ibuk memanggilku. Ia adalah Ibu angkatku.  Ibu yang pertama kali mengajarkan ku untuk mengenakan hijab. 

Aku bergegas ke depan.  Kutinggalkan semua pekerjaanku.  Ku tinggalkan tungku api yang masih menyala dengan dandang nasi di atasnya.  Ku tinggalkan tumpukan pakaian yang tiap pagi harusnya kujamah sebelum berangkat sekolah di kecamatan sebelah. 

"Yuk.. Titip. Okta yaa.. Putri mau pergi", Putri berpesan. 

Okta adalah adik bungsu kami.  Putri adalah adikku juga. Di atas Okta. Kulihat Okta memegang erat Putri.  Tak ingin lepas.  Dia begitu pengikut terhadap Putri. Kemana Putri pergi dia pasti menangis ingin dibawa. 

Akhirnya dengan sedikit memaksa,  aku menyambut Okta yang masih memegang erat pinggang Putri. 

Lalu Putri pergi. Dan setelah meminta izin kepada Ibuk,  aku pergi ke kebun yang Kisaran 15 menit dari rumah. Karena aku juga harus sekolah,  aku menitipkan Okta kepada Bibi dan Paman yang sudah beberapa bulan ini tinggal di kebun. 

Langit tampak mendung dan mulai gerimis. Seolah menggambarkan isi hatiku saat berada di atas kendaraan roda dua tersebut. 

Ku bawakan motorku perlahan. Melewati jalanan aspal. Lalu masuk ke dalam sebuah gang kecil.  Menemui jembatan yang telah rusak dan bisa menimbulkan bahaya apabila tak diperbaiki. Okta kuikatkan dengan kain di belakang pinggang. 
Lalu masuk lagi ke dalam perkebunan yang dipenuhi semak serta jalan yang licin.  Melewati jalanan yang menanjak,  menurun. Dan tibalah di sebuah gubuk tua perkebunan.  Tempat biasa kami bercakap, mengobrol banyak hal.  Memasak beragam masakan kebun. 

Lengang!!.  Tiada satupun orang disana.  Aku mulai memanggil. 

"Biiii..., Bibiiii... "

Aku terus berusaha Mencari Bibi di sekeliling bahkan aku mencarinya sampai ke sungai. Kebun kami dekat sungai. Mungkin sedang mandi fikirku. Namun hasilnya nihil. 
Pintu gubjk yangbterbuat dari pohon pinang itu memang di gembok. 

Hatiku bergemuruh.  Ingin aku teriak. Ingin menangis sekencang-kencangnya.  Okta kecil. Terdiam melihat ku terus memanggil.  matanya sayu.  Bekas air mata belum hilang dari pelupuk matanya. Dia terduduk saja di atas motor.  Tidak ingin turun kecuali ku ajak turun. 

Hati teriris.  Dia masih begitu kecil. Masih sangat polos.  Bahkan belum genap 2 tahun dan masih menyusui. 

Ku ajak Okta pulang. 
Mulai menghidupkan motor dan kembali ke Talang. Jalanan licin karena rintik gerimis nya makin membesar.  Belum lagi semalam juga hujan turun. Ketika melewati jalanan yang licin,  motor kami terpeleset.  Kami terjatuh. 
Lagi, hati kembali merasa Iba.  Iba terhadap Okta  Iba terhadap keluarga kami. Dan Iba terhadap diriku sendiri.

"Yang sabar wahai diri", aku menyrmangati diri

Aku segera menegakkan motor. Membawanya dengan berjalan. Okta masih mengikutiku. Dia anak yang kuat. Masih kecil sudah harus di uji.

Perlahan, kami keljar dari jalanan licin. Lalu ketika sampai di Talang,  yaitu desa kami.  Pas lewat depan rumah Bibi, ternyata Bibi sudah ada di rumahnya. Aku lalu menitipkan Okta. 

Okta, adek kecilku yang Malang menangis.  Tidak ingin pisah dari ku. Ingin mengikutiku. Namun aku tidak bisa.  Aku harus sekolah juga.  Ku lihat mata-mata memandang kami berdua dengan penuh iba.  Berusaha membujuk Okta. 
"Ayuk mau sekolah.. Okta sama Bibi dulu yaa.. Nanti di jemput lagi sama Ayuk". Mereka membantuku membujuk Okta. 

Ia masih menangis.. Dan dengan tega aku terpaksa meninggalkannya. 

"Ya Allah.. Tolong jaga adek hamba.  Semoga tangisnya segera reda bersama Bibi.  Nanti dia pasti akan aku jemput", Do'a ku dalam hati. 

Ayah.. Harus bekerja mencari nafkah.  Mencari dana untuk pengobatan Ibu.  Dan terutama agar bisa segera menjenguk Ibu yang seorang diri di Rumah Sakit Kota. Kadang aku kasihan terhadapnya. Disaat yang sama ia harus menjaga anaknya yang masih kecil. Lalu otak berfikir bagaimana bisa segera Ibu sembuh dan dijemput.  Namun ia juga harus bekerja. 

Terkadang pulang dalam keadaan lapar dan tiada yang memasak. Kami ... Terbiasa dalam perpisahan. Karena memang tidak tinggal bersama keluarga. Jadi hanya sesekali saja jenguk ayak dan rumah lalu membersihkannya. Kadang membawa masakan untuk Ayah. Sungguh aku benar-benar merasakan Iba dan merindukan Ibu.

Kami semua merasakan sakit.  Sakit yang sama di masa-masa penuh pelik. Masa-masa yang takan terlupakan. 

Tidak ada komentar

Terimakasih sudah berkunjung. Jangan lupa tinggalkan komentar yang baik-baik ya teman-teman. :-)