Minggu, 30 September 2018

“Rukyah Nur Hidayah”


“Diba, apa kabar?” tiba-tiba Umi mengirim pesan kepadaku setelah sekian lama kami tiada berkabar.

“Alhamdulillah, Baik mi. Umi apa kabar?”, balasku.

“Alhamdulillah umi baik juga. Oya, minggu depan hari Selasa umi ke Bengkulu, Nak”. Pesan nya masuk lagi.

“Oh ya, ada acara apa mi?”, tanyaku.

“Umi mau check up Adek Iyah”.

“Oh, iya mi. Kabari aja yaa. Nanti Diba mau ketemu juga sama Dek Iyah”. Jawab ku.

“Iya”

Yapp… Umi adalah wali kelas ku tatkala masih MTs dahulu. Umi yang baik hari dan peduli dengan semua muridnya. Umi juga adalah Ibu dari salah satu teman ku. Jadi semua orang biasa memanggilnya Umi. Dan Adek Iyah, umur nya baru 3 bulan. Ia bukan anak kandung Umi. Ia adalah anak angkatnya. Bayi malang yang ditinggal meninggal ibu kandungnya tak lama setelah ia dilahirkan.

Namun beberapa hari setelah umi mengirim pesan kepadaku, tiba-tiba saja beliau mengabari bahwa beliau sedang di jalan.

“Assaalamu’alaikum, Diba. Umi sekarang sedang di jalan. Adek semalam nangis nggak ada berhenti. Dia diare. Umi menuju rumah sakit”. Pesan umi sambil mengirimkan alamat rumah sakitnya.

“Ok Mi, nanti usai kuliah Diba langsung menuju lokasi ya”.

“Ok”.

Dan akhirnya usai kuliah aku langsung menuju rumah sakit dimana Dek Iyah dirawat.

“Gimana kabar Adek, Mi?”, tanyaku langsung setelah sampai dan menyalami umi.

“Sudah di tangani dokter, Nak. Katanya tidak apa-apa. Padahal semalam suara Adek bahkan serak karena nangis mulu, Umi kan cemas. Apalagi di mobil tadi Adek sesak nafas. Ina saja sampai nangis. Khawatir adek pergi”, jelas Umi berkaca-kaca. Ina adalah anak kandung Umi yang bungsu. Umi memiliki 4 orang anak.

“Ohh… Iya Umi. Alhamdulillah kalau Adek tidak kenapa-kenapa”,  jawabku lega.

Lalu aku menatap wajah mungil, kulit putih dan lucu itu. Ia balik menatapku. Entah apa arti tatapan itu. Matanya bulat dan tajam sekali. Tangannya sedang di infuse. Matanya berair. Pasrah dengan apa yang dilakukan dokter. Tak terbayangkan oleh ku betapa sedihnya Umi melihat anaknya yang masih bayi di infuse. Anak yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Apalagi selama ini Umi memang ingin punya anak lagi. Umi ingin punya anak 5. Namun dokter melarang karena itu akan mengganggu kesehatan Umi. Umi dulu pernah sakit keras.

Dedek Iyah menginap di rumah sakit. Lalu aku pun berpamitan untuk pulang. namun sebelum pamit, Umi memintaku mencari orang yang bisa merukyah Adek Iyah.

Aku pun menyanggupi. Karena aku punya salah satu kenalan ustadz tempat biasa orang-orang sering merukyah.

Malam nya aku menghubungi Ustadz Dayat. Sebelumnya beliau menanyakan yang sakit perempuan apa laki-laki? Jika perempuan maka akan ditangani langsung oleh istrinya.

“Dia perempuan pak ustadz. Masih bayi.”, Jawabku.

“Baiklah. Besok datang ke rumah bapak ya. Usai dzuhur. Atau kalau enggak, di masjid saja. Masjid nya dekat dengan rumah bapak”, kata Pak Ustadz memberi pilihan.

“Di masjid juga boleh pak”.

“Baiklah kalau begitu”, akhirnya malam itu kami berjanji untuk esok nya langsung ke masjid dekat rumah Pak Ustadz. Namun sebelumnya Ustadz sudah memberikan alamat nya secara lengkap dan mudah didapatkan.

Esok harinya, usai kuliah juga, aku langsung ke rumah sakit lagi menemui Umi. Sampai disana, ternyata Umi sudah berkemas untuk pulang. Namun sebelum pulang, kami ke lokasi rukyah dahulu. Aku didepan sebagai penunjuk jalan. Sementara mobil umi yang disupiri oleh Abi dan ada Adek Ina di dalam nya mengikuti ku.

Kisaran 20 menit perjalanan kami sampai ke lokasi masjid itu. Abi langsung memarkir mobilnya. Lalu kami melaksanakan sholat dzuhur dahulu di masjid itu secara bergantian. Tak lama kemudian Ustadz Dayat datang disusul oleh istrinya.

Istrinya bercadar dan ramah sekali kepada kami. Beliau mengambil adek Iyah di pangkuanya. Dek Iyah nurut saja. Namun lama-lama ia menolak dan menangis. Lalu Iyah diambil oleh Abi.

“Jadi gimana, Bu?”, Tanya Pak Ustadz serius setelah sebelumnya bertanya kabar dan darimana.

Lalu disanalah Abi dan Umi bercerita secara bergantian. Aku hanya mendengar. Sebenarnya aku sudah tak kisah Dek Iyah sebelumnya dari Umi. Namun secara lengkapnya baru aku ketahui sekarang.

“Jadi gini Pak, Iyah ini sebenarnya bukan anak kami. Dia adalah anak salah satu orang yang bekerja di kebun kami..”, Umi mulai bercerita.

Disanalah aku mengetahui bahwa Kakeknya Ibu dek Iyah ini adalah seorang dukun. Dan sudah memakan banyak korban dari keluarganya sendiri. Korban sebagai tumbal secara turun temurun. Kakek ibunya Iyah ini masih hidup dan segar meski sudah berusia lanjut.

“Dan Ibu nya Hidayah ini juga menurut penuturan suaminya, juga salah satu korban dari Kakek Ibunya nya (buyut Iyah)”.

Ku lihat Ustadz Dayat hanya mengangguk-angguk saja.

“Iya bu.. dapat kami fahami, Biasanya mereka (Jin) itu memakan tumbal pada malam terang bulan. Lanjut Ustadz Dayat.

“Nah betul sekali itu pak. Ibu nya Iyah ini juga meninggalnya pada malam terang bulan karena sakit perut. Makanya kami begitu cemas ketika Iyah sakit diare parah. Namun diperiksa secara medis malah dokter bilang ia tidak apa-apa”. Tungkas Abi.

Dan disana ku rasakan bulu kuduk ku terasa merinding.

“Dan ketika Ibunya itu sakaratul maut, Pak. keluarganya meminta kami datang ke rumahnya. Ibu Iyah ingin bertemu dengan saya langsung. Lalu disanalah sebelum meninggalnya, Ibu Iyah menitip Iyah kepada saya. Meminta saya menjaga Iyah. Sehingga saya merasa itu wasiat. Awalnya saya tidak membawa Iyah ke rumah. saya hanya memberi perawatan saja pada Iyah. Ia tetap dirawat oleh neneknya. Namun karena kondisi Iyah tak jua membaik seperti orang kurang gizi, akhirnya Neneknya menyerahkan Iyah kepada saya. Dan saya rawat dengan baik. Ketika Iyah saya rawat, saya bacakan sholawat, do’a-do’a, dan ayat-ayat. Banyak kejadian dirumah saya pak. misalnya suami saya pernah melihat kalajengking di dalam rumah. padahal sebelumnya tidak pernah ada kalajengking”, Jelas Umi.

“Iya, betul itu yang ibu lakukan dengan membaca ayat-ayat, sholawat dan do’a-do’a sudah benar. Dan kalajengking itu bisa jadi jelmaan dari jin yang mengikuti Iyah”. Kata ustadz menimpali.

“Memang ada banyak bermacam-macam jenis sihir bu, ada yang keluarnya muntah dalam bentuk paku, ada yang dalam bentuk binatang, ada jimat-jimat yang ditanam di tiap sudut rumah, dan ada juga buhul yang dikirimkan secara kasat mata. Misalnya benang.”, lanjut Pak Ustadz.

“Nahh.. di popok Iyah kami juga menemukan benang pak. tapi saya nggak tau kalau itu adalah buhul. Jadi langsung saya buang”.

“Nah, buhul ini ia tidak akan hilang kecuali dibakar, Bu, dan buhul itu keluar dari tubuh Iyah mungkin karena ibu sering membacanya sholawat dan bacaan-bacaan yang ibu sebutkan tadi”.

Disini aku merasa begitu bergidik. Aku fikir tentang sihir ini hanya ada di zaman dahulu kala sebelum zaman modern. Namun faktanya sampai sekarang juga masih ada. Yapp tak bisa dipungkiri makhluk-makhluk halus, setan dan iblis itu ada untuk menggoda manusia. Mengajaknya ke dalam kesesatan.

“Jadi gimana sekarang pak Ustadz? Agar Iyah bisa terputus dari rantai keturunan itu. Karena kata keluarganya, Iyah ini juga sepertinya akan  dijadikan tumbal kalau tidak kita tolong”. Tanya Umi dengan cemas.

“Iyah masih kecil, Bu. Kita tidak bisa mengusir makhluk yang bersemayam di tubuhnya. Ia tidak akan sanggup. Nanti akan bahaya”, Jelas pak ustadz.

Lanjutnya lagi, “Betul atas apa nyang sudah ibu lakukan. Melakukan rukyah mandiri itu lebih kuat, Bu. Dan lebih mujarrab”, jelas pak ustadz.

Beliau lalu menunjukkan beberapa surat dan ayat agar Umi baca dikala sebelum makan, sebelum tidur, di air minum nya Iyah, dan disekeliling rumah Umi. Dan hampir semua ayat dan surat yang Ustadz anjurkan untuk dibaca, itu sudah Umi hafal dan sebagian sudah beliau amalkan.

“Dan yang terpenting sekarang adalah Ibu harus kuat dulu. Yakinkan Ibu, bahwa tiada yang lebih kuat selain dari Allah. karena ibu yang paling dekat dan sering berinteraksi dengan Iyah. Jangan sekalipun Ibu lemah. Dan ini resIkonya juga besar, Bu. Bisa jadi nanti anak-anak ibu yang lainnya akan diganggu oleh jin yang mengikuti Iyah. Tapi tenang saja. Selagi kita ibadahnya taat kepada Allah, insyaAllah akan selalu dalam perlindungan Allah”, jelas pak ustadz.

“Iya pak. Kadangkala kalau Iyah lagi kumat, matanya melotot seakan marah gitu sama saya, saya ajak ngobrol. Ada apa? Keluar kamu dari tubuh anak saya. Kamu kuat? Allah, Tuhan saya jauh lebih kuat dari kamu”. Lanjut Umi lagi dan mempraktekkan ekpresinya ketika berusaha mengobrol dengan makhluk di tubuh Dek Iyah.

Iyaa.. umi sudah faham akan semua itu. Wajar, karena umi ilmu agama nya cukup tinggi. Beliau juga guru ilmu Al-Qur,an dan hadist di salah satu Madrasah daerah kami.

“Nah, pas sekali ibu. Jadi sekarang yang bisa dilakukan adalah kita terus berdo’a dan lakukan rukyah mandiri untuk adek Hidayah. Semoga dengan begitu nanti makhluk yang mengikuti garis keturunanya juga terputus. Aamiin.” Tutup pak ustadz.

“Baik Bapak, terimakasih banyak pak. Kalau begitu kami pamit pulang dulu pak,” lanjut Abi. Lalu kemudian kami keluar Masjid.

Dan aku menghampiri pak ustadz.

“Maaf pak, gimana dengan biayanya?”, tanyaku malu karena aku bingung memilih kata yang cocok untuk menanyai berapa biaya rukyah ini. Aku takut salah omong karena aku tau beliau ini adalah Ustadz yang sudah banyak membantu orang.

“Sudah.. tidak usah”, jawab ustadz menolak halus dan tersenyum.

“Tapi, Pak?”, tanyaku lagi.

“Iya, nggak apa-apa”. Tegasnya.

“Baiklah pak, kalau begitu terimakasih banyak ya pak”. ucapku terharu.

Lalu Abi dan Umi pulang, sebelum pulang Ustadz menitip pesan kalau ada apa-apa lagi sama adek Iyah, Umi bisa menanyainya kepadaku. Atau minta nomor hp ustadz kepadaku.

Aku menyalami Umi. Dan umi menciumku sambil berbisik, “Makasih ya, Nak..”.

Aku pun membalas Umi lalu mencium Adek Nur Hidayah. Tak terasa air mataku jatuh. Kasian sekali bayi ini. ditinggal ibunya masih bayi. Masih merah badan. Lalu menderita penyakit yang tak dapat diprediksi secara medis sehingga ia tak ubahnya seperti bayi kekurangan gizi. Hidup tidak, mati pun tidak. Namun sekarang ia sudah menemukan keluarga baru yang menyayanginya setulus hati. Apalagi Umi bilang bahwa beliau akan minum obat dokter agar ASI nya keluar untuk menyusui adek Iyah. Agar ia menjadi saudara sesusuan dengan Ina dan dengan ketiga anaknya yang lain yang dua nya adalah laki-laki. Agar nanti ketika besar, tidak menjadi dosa ketika Iyah tidak memakai hijab di depan kedua kakak laki-laki angkatnya. Biar sama dengan Ina.

Memang benar, syirik adalah salah satu dosa besar. Karena telah menyukutukan Allah dengan makhluknya. Di dalam Al-Qur’an dikatakan tatkala Lukman menasehati anaknya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

baca juga: pentingnya menulis untuk kebaikan

Semoga kita semua dijauhkan dengan syirik dan senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. swt atas gangguan semua makhluk.

Dan alhamdulillah, sekarang aku dengar kabar dari Umi, Iyah semakin sehat, pintar dan cantik. Umi terus membacainya ayat-ayat yang diberikan oleh Ustadz Dayat. Bahkan Adek Iyah tidak mau tidur kalau belum dihidupkan murattal hp. Masyallah.. semoga jadi anak yang pintar, sholehah, cantik dan jadi orang yang berpengaruh ya dek. Do’aku. Aamiin..

Dan tak lama kemudian kudengari kabar dari Umi juga bahwa umi sudah mengganti nama Dek Iyah menjadi Amah. Lengkapnya Nur Salamah. Yang artinya cahaya keselamatan. Dan Umi sudah membuang semua baju-baju Iyah yang lama ketika dulu sebelum sama Umi. Itu juga salah satu usaha yang Umi lakukan untuk menghilangkan kekhawatiran Iyah diganggu lagi.

#Kisah ini diambil dari kisah nyata dengan sedikit pengubahan.

16 komentar:

  1. Ini juga bisa jadiv pelajaran buat kita semua, terimakasih sudah berbagi

    BalasHapus
  2. Penasaran cerita versi kisah nyata nya yaaaa

    BalasHapus
  3. Waa..
    aku kalau tentang beginian sering merinding sendiri. Meskipun paham kalau hidup berdampingan, tapi tetap saja membayangkan ada yang mengikuti itu agak..

    BalasHapus
  4. Cerpennya kisah nyata ya? Wah aku juga pernah dengar nih dari liqo yang beginian. Disuruh rukyah mandiri. Tapi entah kenapa berat mau melakukannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak rukyah mandiri lebih baik dan mujarab

      Hapus
  5. Semoga kita terlindung dari gangguan makhluk-makhluk yang jahat...

    BalasHapus
  6. semoga kita selalu senantiasa lindungi Allah SWT

    BalasHapus
  7. Ya ampun ngeri banget ya dek. Astaghfirullah.
    Ini terinspirasi dari kisah nyata ato fiksi aja dek?

    BalasHapus
  8. Ngeriiiiii dek huhuuu
    Kasian adek bayinya, masih kecil tapi cobaannya berat banget :)

    BalasHapus
  9. Mengalir bangett nulisnya neng meskipun dari kisah nyata serasa fiksi. Tingkatkannn

    BalasHapus
  10. Nice. Menarik, dibaca berulang kali tetap tak bosan.

    BalasHapus

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan, saya seorang Mahasiswa UMB prodi KPI, announcer di 104,3 radio Jazirah FM, seorang aktivis IMM, Aktivis dakwah KompaQ, serta memiliki hobi nulis dan baca. Untuk kenal lebih lanjut, Kamu bisa mengunjungi ku di Facebook: Nengsih Hariyanti Whatsapp/Telegram: 081532485541 Instagram: @nengsih_hariyanti Email: nengsihhariyanti@gmail.com Twitter: @NengsihRianty2

Biarkan Berlalu

Terlalu pahit untuk ku kenang Sepenggal kisah masa lalu kita Biar ku perlahan beranjak pulang Tinggalkan puing rasa Tak usah acuhkan...