Selasa, 25 September 2018

Dicegat


Siang itu, aku disibukkan dengan sederet prosedur dalam menyelesaikan slip pembayaran kami sekelas. Ada sedikit kendala dikampus sehingga aku diminta oleh prodi untuk mengurus nya hingga selesai. Dan dengan gesit aku pun mengurusnya dibantu oleh teman saya, Caca. Namun tatkala lagi memfotokopi slip tersebut karena slip milik aku sendiri salah. Lalu kami kembali ke kostan untuk mengambil slip yang benar, yang jaraknya lumayan jauh dari kampus untuk menjemput slip yang benar.

Dengan buru-buru dan sedikit ngebut bawa kendaraan, aku berharap semua pekerjaan ku hari itu berjalan dengan lancar. Namun manusia hanya bisa berencana. Allah jualah yang menentukan apakah rencana itu akan berjalan dengan mulus atau tidak.


baca juga: Kehilangan Dompet

Ketika diperjalanan, seseorang mencegat kami di jalan dan meminta kami untuk berhenti. Aku sudah mulai merasa khawatir dan mengelak untuk berhenti. Namun dia bilang ada yang ingin di tanyakan. Dan akhirnya aku meminggirkan motorku dengan terpaksa.

“Iya, ada apa pak?”, aku bertanya.

“Ini dengan Adek Novi?”, tanyanya kemudian.

“Oh, tidak pak”, jawab ku langsung.

“Nopi Irwana yang kuliah di Kampus IAIN?”, tanyanya lebih lanjut seolah tak percaya.

“Bukan, pak. Bapak salah orang”, jawabku lagi.

Lalu kulihat ia mengobrol dengan temannya. Ya. Iya berdua dengan temannya yang mencegat ku dijalan.

“Tapi betul koq disini namanya Nopi Irwana. Pas. Plat motor nya juga sama”, aku dengar dia bicara dengan temannya dengan sedikit berbisik.

“Boleh liat STNK nya? Atas nama Nopi Irwana, Nggak?”, tanyanya kemudian.

“Baik, Pak”, jawabku sambil memeriksa STNK di dalam dompetku. Dan aku mulai cemas tatkala nama yang tertulis di STNK itu sama dengan yang dia sebutkan. Selama ini aku tidak hafal nama siapa yang tertulis du STNK milikku sendiri.

“Ini, Pak”, aku menyerahkan STNK itu dengan begitu polosnya. Aku cemas, bingung dan tak tau apa yang di lakukan.

Dalam hati aku mengiba. “Ya Allahh.. aku sedang buru-buru ngurus slip ini. sementara aku sedang ditunggu untuk segera menyerahkan slip itu kembali”.

“Boleh ikut kami, Dek?” pintanya.

“Mau kemana pak? Saya sedang buru-buru. Saya harus menyelesaikan kuliah saya sebentar, Pak. Saya tidak bisa pergi”, jawabku memelas dan sedikit panik.


“Sebentar saja. 5 menit. Kantor kami dekat sinilah” jawabnya tanpa menyerahkan kembali STNK itu kepadaku. Dalam hati aku berkata, “Pasti ada yang tidak beres”.

Aku mendengar Caca berbisik di belakang ku yang tak kalah cemasnya dengan aku. “Jangan Liza. Jangan diikuti”. Pintanya.

“Tidak apa-apa Ca, sepertinya aku tau apa yang terjadi”, Jawabku.

Lalu aku meng-gas motor lagi mengikuti arah kemana dua orang itu pergi. Ke kantor nya.

Dan sampai disana aku melihat banyak orang serta banyak motor di dalam ruangan itu. Apa ini? showrromkah? Tidak!. Tempat penarikan kendaraan kah? Ah mungkin saja. Lalu aku diajak naik ke lantai 3. Sementara Caca menunggu ku di lantai bawah.

Sebelum masuk aku sempat Whatsapp sama Ayah. Namun belum di read. Aku telpon, panggilannya malah mengalihkan. Aku benar-benar panik. Akhirnya aku kirim pesan “Yah, ada orang menghentikan motorku di jalan. STNK aku ditahannya. Dan sekarang aku diajak ke kantor dia”.

Lalu aku terus mengikuti 2 laki-laki tersebut.

Tatkala sampai dilantai 3, aku disuruh duduk dengan computer di depan ku bersama dengan Bapak ya ng mencegat ku tadi. Mungkin itu adalah bos nya. Dan aku harus menyelesaikan urusan ku dengan dia.

“Ada apa, Pak? Kenapa?”, tanyaku langsung karena penasaran dan mata mulai memanas.

“Gini dek, ini motor Adek?” tanyanya.

“Iya pak.ini motor sambungan” jawabku jujur.

“Gimana ceritanya, Dek?” tanyanya lagi.

“Jadi dulu itu ada temannya Ayah yang kredit motor ini. lalu  dia nggak sanggup lagi lanjutkan kreditnya. Dan Ayah yang meneruskan”.

Lalu tak lama kemudian Ayah menelpon ku dan menanyakan apa yang terjadi. Dan aku menyerahkan Handphone tersebut kepada lelaki tersebut. Aku mendengar suara lelaki yang mencegat ku itu bicara. Meski suara ayah tak kudengar. Dapat aku pastikan bahwa motor ku ini sudah jatuh tempo kredit. Bahkan bisa dibilang sudah berbulan-bulan karena sudah diincarnya.

Aku menangis. Tak lama kemudian Caca menemui ku. Dia naik kelantai atas dimana posisi ku berada. Meski sudah di ruang yang sama dengan ku, dia tetap chat aku. “Sabar ya, Za..”,  Caca mengirim pesan di Whatsapp ku. “Iya Ca. makasih yaa”, balasku.

Kemudian tak lama kemudian, lelaki 1 nya lagi meminta kunci motorku. “Untuk apa, Pak?”, tanyaku dengan nada sedikit meninggi karena rasa cemas.

“Pinjam sebentar, Dek. Ada yang mau di cek”, jawabnya. Akhirnya aku berikan kunci motor tersebut kepadanya. setelah berbicara sebentar dengan motor yang aku tidak tau apa-apa tentang ini awalnya, akhirnya aku disuruh menandatangani sebuah kertas. Kertas itu adalah sebuah kertas berisi pernyataan bahwa aku telah menyerahkan motor tersebut.

Aku benar-benar tidak bisa lagi membawa motor tersebut. Ia harus ditahan sampai Ayah menyelesaikan semua urusannya. Aku sudah berusaha menego agar aku diberi waktu. Karena aku harus kembali ke kampus untuk menyelesaikan urusan ku yang tertunda tadi. Aku mencoba membuat dia percaya dengan menahan KTP ku. Aku bilang bahwa nanti aku yang akan mengantar sendiri sepeda motor itu. Namun ia tetap tidak mau. Akan ada yang mengantarku pulang, katanya. Lalu dengan berat hati akhirnya aku dan Caca kembali ke bawah. Keluar dari ruangan itu. Kulihat sepeda motorku. Helm ku sudah tak ada disana. Sudah di pindahkan oleh petugas tersebut. Aku kembali melihat petugas yang tadi meminta kunci motor ku. Ia sudah mengeluarkan semua isi jok motor. Dan dua orang dengan dua motor sudah siap mengantar kami. Terjadi sedikit perdebatan antara kami. Karena aku tidak ingin boncengan dengan lelaki. Begitupun dengan Caca. Akhirnya bos nya datang dan kemudian memerintahkan kepada anak buahnya agar aku dan Caca bawa 1 motor dan dia beserta k
awannya mengiringi kami di belakang.

Ahhh.. aku sudah tak tau lagi apa yang aku rasakan saat itu. Caca hanya diam. Sementara sepanjang jalan menuju pulang air mataku terus berjatuhan. Ahh.. aku memang cengeng. Mudah sekali menangis. Aku orang yang sok kuat. Berusaha sekeras mungkin agar air mata tak jatuh di depan orang namun tetap tak mampu.

Sesampainya di depan Kos, aku menghentikan motor. Lalu ku bilang sama lelaki tua yang mengiringi ku tadi. “Semoga anak gadis Bapak tidak mengalami apa yang aku rasakan”.

Lalu ia menjawab, “Dek, kalau mau mencari pacar, sama abang saja”. Dengan tersenyum dan begitu pedenya .

Astaghfirullah. Muak diriku. Ketika dia pergi, aku langsung memeluk Caca. Dan menangis tersedu di pangkuanya. Tak tau lah apa yang saat itu aku rasakan. Aku hanya ingin menangis. Melepas hormon kesedihan di dalam tubuhku.

Tak lama Ayah menelpon. Beliau menanyakan bagaimana tadi. Dan aku bilang bahwa aku sudah menandatangani kertas tersebut. Lalu Ayah bilang lagi, jika kamu belum tanda-tangani itu tadi, motornya masih bisa kita proses. “Yasudahlah yah.. tidak apa-apa. Aku ikhlas. Mungkin sudah bukan rezki kita lagi. Pasti ada hikmah di balik semua ini. setidaknya Ayah dan Ibu tidak lagi mesti sibuk mikirin uang tagihan kredit yang jatuh tempo tiap bulannya. Semoga aku nanti juga banyak kemudahan lainnya. Aamiin..”

Seiring dengan itu, ucapan duka dan support agar bersabar dari keuarga berdatangan untuk ku.

Yaaa.. selama ini aku hanya tau bahwa semuanya baik-baik saja. Aku pernah menanyakan keadaan motor ku kepada Ayah. Ayah bilang itu tidak perlu kamu fikirkan. Semua akan baik-baik saja. Meski dulu aku juga sudah pernah bilang bahwa, “Kalau motor mau di balikkan ya tidak apa-apa, Yah..”, namun Ayah bertanya. “Apakah kamu masih butuh motor?”,

Aku jawab, “Iya Yah..”

“Kalau masih butuh pakai saja. Nggak usah kamu fikirkan kreditnya”. Ayah meyakinkan.

Namun faktanya semua tak sebaik yang aku fikirkan. Maafkan aku, Yah. Sudah banyak merepotkan mu. Tak perlu khawatir aku akan kecewa kepadamu. Bagaimanapun kau tetap lelaki terhebat dalam hidupku. Terima kasih Ayah.

7 komentar:

  1. Aku baca dari yang kehilangan dompet tadi neng, yang ini masalahnya lebih rumit ya.. Semoga Nengsih cepat dapat banyak uang dari kegiatan buzzernya supaya bisa beli motor sendii..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang pasti sekarang fokus kuliah dan tamat dlu. Motor belkangan aja .

      Hapus
  2. Yang sabar yo dek...segala sesuatu pasti ada hikmahnyo..semoga masih ada rezeki lain dek..

    BalasHapus

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan, saya seorang Mahasiswa UMB prodi KPI, announcer di 104,3 radio Jazirah FM, seorang aktivis IMM, Aktivis dakwah KompaQ, serta memiliki hobi nulis dan baca. Untuk kenal lebih lanjut, Kamu bisa mengunjungi ku di Facebook: Nengsih Hariyanti Whatsapp/Telegram: 081532485541 Instagram: @nengsih_hariyanti Email: nengsihhariyanti@gmail.com Twitter: @NengsihRianty2

Biarkan Berlalu

Terlalu pahit untuk ku kenang Sepenggal kisah masa lalu kita Biar ku perlahan beranjak pulang Tinggalkan puing rasa Tak usah acuhkan...