Senin, 30 April 2018

SINOPSIS NOVEL TAKBIR RINDU DI ISTANBUL


Judul: Takbir Rindu di Istanbul
Nama Penulis: Pujia Achmad
Tempat Terbit: Jakarta
Penerbit: Puspa Populer
Tahun Terbit: 2013
Keterangan edisi: Cetakan Pertama
Halaman: 324 hlm
Assalamu’alaikum wr.wb
Kali ini aku bakal men-sinopsis-kan sebuah novel yang sebenarnya sudah lama tamat membacanya. Tapi karena cerita nya sangat menarik dengan latar Turki, Belanda dan Indonesia, akhirnya aku membaca lagi untuk mengumpulkan sisa-sisa ingatan. Dan lalu merangkumnya dalam sebuah synopsis.

maafkan gambar novelnya yang kurang rapi yaaa..huhuu
Novel dengan 324 halaman ini memiliki tokoh yaitu Zaida, Ilham, Salman, Hamidah, Nadia, Fara, Putri, dll.
Ialah Zaida yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Zaida baru saja mengurus berkas-berkas pengajuan beasiswa arsitektur nya ke Belanda. Sambil menunggu hasil apakah Zaida mendapatkan beasiswa itu atau tidak, ada seorang lelaki saleh yang meminangnya. Lelaki ini merupakan teman sekampus Zaida dan mereka sama-sama aktif di rohis. Zaida memang telah lama mengaguminya. Begitupun dengan Ilham, nama lelaki yang melamar Zaida.
Namun, Zaida tidak langsung menerima lamaran itu karena ia juga ingin meneruskan kuliahnya ke Belanda. Apalagi setelah Zaida di terima untuk pengajuan beasiswa tersebut. Ia bertambah bimbang. Setelah meminta waktu 1 minggu untuk memberi jawaban, akhirnya Zaida mendapat petunjuk lewat istiqarahnya. Ia akan menerima lamaran Ilham dan melupakan Beasiswanya ke belanda.
Namun, ternyata semua tidak semanis yang Zaida bayangkan. Karena pada akhirnya Zaida memutuskan untuk menolak lamaran Ilham melalui sepucuk surat setelah ia tau bahwa faktanya Ilham telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan Hamidah. Hamidah yang merupakan seorang hafidzah dan anak seorang ustadz ternama. Hati Zaida hancur, ia tidak ingin dibanding-bandingkan dengan seorang Hamidah yang cantik dan juga hafidzah. Ia merasa tak sebanding.
Di dalam kegalauan hatinya, akhirnya ia memutuskan untuk mondok dan menjadi penghafal qur’an. Namun sebelum resmi menjadi santri, Zaida harus mengikuti ujian menghafal. Jika ia gagal, maka hanya boleh 1 kali perbaikan. Zaida menghafal dengan cepat karena ia memang pintar. Namun tak disangka, 1 hari sebelum hari ujian itu, Hamidah datang ke pondoknya Zaida untuk memotivasi para santri dalam menghafal. Hamidah tidak tau siapa Zaida. Zaida yang merupakan wanita yang dicintai oleh calon suaminya. Luka Zaida yang hampir sembuh kembali menganga. Zaida blank setelah melihat aslinya Hamidah seperti apa. Dan ujian tahfidz Zaida berantakan.
Di beri kesempatan untuk perbaikan, Zaida kembali memperbaikin hafalanya. Namun, lagi-lagi ketika ia mau ujian, ternyata Ilham yang datang lagi ke pondok itu bersama keluarganya. Zaida bertemu dengan Ilham. Ada sedikit perasaan bahagia di hati Ilham. Namun ternyata tujuan Ilham datang kepondok itu adalah untuk meminta pemilik pondok menjadi saksi dalam ijab Kabul Zaida dan Hamidah. Hati Zaida kian bertambah hancur. Dan hafalanya lagi-lagi buyar dan ia tidak lolos masuk pondok.
Zaida terpuruk. Ia ingin menghafal di rumah saja. Namun, ibunya melarang dan menganjurkan Zaida untuk kembali mengambil beasiswa ke Belanda. Dan akhirnya Zaida membongkar kembali berkas-berkas yang sudah di simpan nya. Zaida berangkat ke Belanda.
Di Belanda, Zaida banyak menemukan pengalaman baru. Di Belanda, ia berhasil membuat Jansen mementapkan hidayahnya, lalu masuk Islam. Dan ia juga yang membantu sehingga pada akhirnya Jansen berhasil membujuk orang tua Zahra untuk menerima lamaranya. Meski usia jansen dan Zahra terpaut jauh. Di Belanda juga Zaida berhasil mempersatukan Shintya dan Wim dalam ikatan sah pernikahan. Padahal sebelumnya mereka tinggal 1 rumah tanpa status. Karena Wim tidak ingin masuk Islam sementara ia sangat mencintai Shintia.
Dan di Belanda pula, Zaida bertemu dengan seorang teman yang kemudian menjadi sahabatnya. Yaitu putri.  Putri juga seorang hafidzah dan ia juga yang membantu Zaida untuk menghafal Al-Qur’an.
Waktu terus berjalan. Hari itu, Kota Den Haag sangat ramai. Hari perkumpulan seluruh para aktivis kampus yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Perhelatan akbar dari perkumpulan pelajar Indonesia. Zaida dan Putri aktif dalam PPI Belanda. Dan disanalah Zaida bertemu dengan Salman. Zaida dan Salman dulu pernah berada dalam 1 kegiatan. Salman sekarang kuliah di Yordania, Fakultas Kedokteran. Sementara itu, sahabat Zaida yaitu Putri, teryata diam-diam mengagumi Salman. Padahal Zaida juga mengagumi Salman. Kedekatan Salman dan Putri semakin dekat setelah mereka perdua terpilih menjadi ketua dan wakil ketua PPI sedunia. Lagi-lagi hati Zaida perih. Ia kembali teringat Hamidah. Iya, Putri juga seorang hafidzah. Sama seperti Hamidah.
Namun tak disangka, ternyata Salman menyukai Zaida. Dan ia membawa orang tuanya untuk melamar Zaida. Dan dalam waktu dekat mereka akan menikah sebelum orang tua Salman pulang ke Indonesia.
Namun putri menghilang setelah tau lamaran itu. Ia merasa sakit. Merasa dikhianati oleh Zaida, sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri. Dan setelah meminta pertimbangan sama keluarganya di Indonesia, akhirnya Zaida menerima lamaran itu. Meski orang tua Zaida tidak bisa datang ke Belanda, namun Paman Zaida yang akan menjadi walinya.
Dan ketika hari pernikahan di atas perahu yang romantic itu akan berlangsung, Surprise diberikan oleh ayah Salman untuk Zaida. Ibu Zaida dan dua adiknya datang ke Belanda. Dan tak lama Putri pun datang. Hati Zaida begitu bahagia. Hilanglah sudah kesalahfahaman di antara Zaida dan Putri.
Zaida memasuki babak baru sebagai seorang istri. Salman pindah ke Rotterdam, Belanda. Bersama Zaida. Ia bekerja disebuah rumah sakit. Namun, ujian kembali datang. Anak bos Salman menyukai Salman dan dengan alasan yang tidak logis, Salman dipindahkan tugas menjadi sekretaris Marijne. Nama anak bos tersebut. Ia bertugas mengajari Marijne bahasa Indonesia dengan alasan Marijne akan menjalin kerja sama dengan Indonesia. Salman merasa tidak nyaman lalu resign.
Salman menjadi seorang pencari kerja dengan mengajukan surat lamaran dimana-mana. Padahal kala itu Zaida tengah hamil. Lalu ada surat lowongan pekerjaan masuk ke dalam kotak surat rumah mereka. Dan Salman pergi ke alamat sesuai dengan surat yang dimaksud. Dan ia diterima. Salman bekerja pada sebuah klinik yang sesuai dengan keahlianya. Ekonomi mereka kembali membaik .
Ujian kembali terjadi. Terjadi kesalahfahaman antara Zaida dan Salman ketika mereka telah mempunyai anak.  Salman bertugas ke Turki tanpa memberi tau Zaida. Ia merasa telah dibohongi oleh Zaida. Padahal itu hanya salah faham saja. Zaida tidak berbohong. Banyak faktor yang menjadi pertanyaan besar Salman. Ia menemukan surat balasan Ilham sewaktu Zaida menolak lamaran nya. Dan surat itu masih disimpan oleh Zaida. Salman cemburu. Belum lagi hasil tes laboratorium yang di klinik tersebut menunjukan bahwa Salman mandul. Ia sedikit menjadi ragu pada istrinya. Karena buktinya mereka punya anak.
Sudah lebih 14 hari Salman tiada berkabar. Lalu ia memutuskan untuk menyusul Salman di Turki. Tak disangka, ia bertemu dengan Hamidah dan Ilham di Blue Mosque, Turki. Di Turki, Hamidah dan Ilham tinggal. Mereka harus merawat nenek Hamidah yang sakit. Mereka belum mempunyai anak karena ada sedikit masalah terhadap kandungan Hamidah. Lalu hamidah dan Ilham mengajak Zaida ke rumah mereka yang besar untuk istirahat. Dengan segala pertimbangan akhirnya Zaida mau. Di rumah ini Zaida malah melihat Ilham dan Hamidah yang seakan-akan ingin menunjukan kemesraan mereka. Karena tidak tahan, akhirnya Zaida kabur dari rumah tersebut lalu mencari Salman. Ia menyewa sebuah tempat yang murah dan dekat dengan Blue mosque. Ia masih juga belum menemukan Salman. Disinilah ia benar-benar menangis. Kenapa Salman tega meninggalkan dia dan anaknya tanpa kabar. Ia benar-benar rindu. Dan akhirnya ia kembali lagi ke rumah Hamidah. Ia akan kembali ke Rotterdam 1 jam lagi.
Dan ternyata Salman datang ke rumah Ilham karena mereka memang ada janji untuk membujuk Hamidah berobat. Ilham tidak tau bahwa Salman adalah suami Zaida. Begitupun Salman. Akhirnya Zaida dan Salman bertemu.
Disanalah akhirnya semua jelas. Ilham menjelaskan semua kesalahfahaman tentang surat itu. Ilham juga bercerita ia mengalami masalah yang sama. Hamidah membaca surat dari Zaida ketika lamaranya ditolak. Akhirnya mereka sama-sama mengerti dan memaklumi bahwa semua itu hanyalah masa lalu.
Zaida dan Salman kembali ke belanda. Di Belanda, Salman mencari tau tentang hasil lab nya yang menunjukan bahwa ia positif mandul. Benar saja. Ternyata hasil lab. Salman telah ditukar oleh Direktur Utama klinik tersebut. Yaitu Marijne. Anak bos yang dulu mengaguminya. Marijne minta maaf dan berjanji tidak akan mengganggu mereka lagi.
Sementara Ilham, istrinya mau berobat ke Jerman. Dan ia hamil. Tiba pada masa melahirkan, istri Ilham kehilangan banyak darah dan ia tak tertolong. Tetapi anak mereka bisa diselamatkan. Zaida dan Salman pun menjenguk Ilham ke Turki. Lalu Zaida menawarkan diri untuk saat itu Zaida yang merawat anak Ilham. Lalu Ilham mengizinkan. Tak lama kemudian, Ilham kembali menjemput anaknya di Belanda.
Dan disinilah juga, Zaida menawarkan kepada Ilham seorang ibu untuk anaknya yang masih kecil. Zaida hanya tidak ingin anak ini kehilngan kasih sayang seorang Ibu. Zaida menawarkan Nadia. Adik nya yang baru saja bercerai karena Nadia salah pilih suami. Ia Merasa Nadia cocok untuk menjadi Ibu anaknya Iham. Karena Nadia penyayang dan sangat menyukai anak kecil. Hati Ilham sakit. Zaida dulu menolak lamaran nya dan lalu sekarang meminta dia untuk menikahi adiknya.
Tak lama, akhirnya dapat kabar bahwa ilham akan menikahi Nadia karena orang tua ilham juga setuju. Lalu kehidupan keluarga mereka ini pun hidup bahagia. Meskipun Zaida dan Ilham tidak bisa bersatu menjadi suami istri, namun mereka sekarang tetap bersatu berada di dalam satu keluarga.
TAMAT
baca juga: sinopsis novel pulang

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan, saya seorang Mahasiswa UMB prodi KPI, announcer di 104,3 radio Jazirah FM, seorang aktivis IMM, Aktivis dakwah KompaQ, serta memiliki hobi nulis dan baca. Untuk kenal lebih lanjut, Kamu bisa mengunjungi ku di Facebook: Nengsih Hariyanti Whatsapp/Telegram: 081532485541 Instagram: @nengsih_hariyanti Email: nengsihhariyanti@gmail.com Twitter: @NengsihRianty2

Biarkan Berlalu

Terlalu pahit untuk ku kenang Sepenggal kisah masa lalu kita Biar ku perlahan beranjak pulang Tinggalkan puing rasa Tak usah acuhkan...