Senin, 30 April 2018

SINOPSIS NOVEL PULANG


Sebenarnya aku bingung mau memulai cerita tentang novel ini darimana. Novel ini menggunakan bahasa yang tinggi menurutku. Pembahasan yang terkadang sulit untuk aku pahami maknanya. Tentang Economy, tentang peperangan, pengkhiatan, kesetiaan, keluarga, kepedihan, masa lalu dan semuanya serta yang paling penting adalah pulang ke rumah ato pulang ke jalan Tuhan sejauh mana pun kita melangkah. Novel pulang karya Tere Liye ini menggunakan alur maju mundur.
Nama aslinya Agam ,Ia biasa di panggil bujang, tapi lebih akrab lagi di panggil Si Babi Hutan. Yaa julukan Si Babi Hutan itu di beri saat ia berhasil mengalahkan babi Hutan yang paling besar dan paling ganas di Hutan Sumatra saat berburu dengan Tauke besar Keluarga Tong. Saat itu Bujang baru berusia 15 tahun. Karna keberhasilan dia itulah ia di bawa ke kota Provinsi oleh Tauke Besar untuk di angkat menjadi anaknya. Bujang di sekolahkan, di latih bermain pistol dengan lihai, berlatih bermain samurai ala-ala Ninja dan sebagainya. Tapi lebih dari itu, karena memang sudah waktunya Bujang di bawa ke Rumah Tauke karena ada perjanjian antara Samad yaitu ayah Bujang dengan keluarga Tong.
Di kota, bujang memang benar-benar dijadikan anak angkat oleh Tauke. Ia mendapatkan semuanya. Tauke telah berjanji kepada Samad akan merawat dia sebaik mungkin. Awal-awal tiba di Rumah, Bujang harus berkutat dengan buku pelajaran. Bujang di ajarkan oleh guru hebat yang bernama Frans. Dia harus mengejar ketertinggaalanya dalam sekolah. Bujang memang laki-laki yang jenius dan berasal dari latar belakang ayah ibunya yang berbeda, namun keduanya adalah keluarga dari keturunan yang hebat. Kakek Bujang dari ayah adalah tukang Jagal nomr satu daerahnya. Dan kakek bujang dari Ibu adalah Tuanku Imam yang merupakan seorang ulama dan taat agama.
Bujang terdidik di dalam keluarga Tong yang memiliki kekuasaan terbesar. Keluarga ini mnguasai Shadaw Economy, yaitu ekonomi bayangan. Dan Si Bujang adalah salah satu di antara puzzle-puzzle keluarga Tong. Bujang adalah kekuatan terbesar. Yaa ia memang terlatih menjadi orang hebat. Ia belajar samurai kepada Guru Bushi dan belajar bermain  pistol kepada Salonga. Tapi meski begitu. Ia memiliki titik lemah. Ia susah menaklukkan dirinya sendri pdhal sudah banyak lawan yang ia taklukan dengan kecerdasanya. Ia tidak bisa melupakan masa lalunya. Masa lalu keluarganya yang di ceritakan oleh Salonga sedikit banyak mempengaruhinya dan ia tau bagaimana latar belakang keluarganya. Ia begitu dekat dengan ibunya. Tapi ia merasa asing dengan ayahnya. Ia tidak akrab dengan ayahnya sendiri. Namun Bujang sangat menyayangi keduanya. Sebelum Bujang berangkat ke Ibu Kota, ibunya berpesan agar ia tidak makan babi, anjing, dan minuman eras. Ibunya ingin tubuh bujang terjaga dari hal-hal yang seperti itu karena ibu bujang tau kalau Bujang akan dijadikan Tukang Pukul di keluarga Tong. Dan Bujang menuruti Ibunya. Tidak pernah sekalipun ia memakan makanan haram itu meski begitu banyak godaanya.
Hingga pada akhirnya Ibu Bujang meninggal dunia, Lalu di susul oleh Ayahnya yang membuat ia terpuruk padahal baru saja menyelesaikan pendidikan s2 nya. Tapi Bujang akhirnya bangkit kembali.
Tibalah masanya Bujang mengalami hal sulit lainya tatkala keluarga Tong diserang dari dalam oleh penghianat yang selama ini Bujang yakini ia orang yang baik dan sahabat dekatnya. Yaitu Basyir. Ia musuh dalam selimut. Di saat terjadi peperangan dalam sebuah kantor keluarga Tong, mereka terdesak lalu Bujang, Teuke Muda, dan satu lagi temanya saya lupa keluar dari kamar itu melewati sebuah terowongan bawah tampat tidur Teuke Muda. Keluar dari terowongan itu, Teuke Muda meninggal dunia dan Bujang terluka parah. Ia diselamatkan dan dilindungi oleh Tuanku Imam yang merupakan paman Bujang sendiri. Kakak dai ibu Bujang. Disana Bujang mendapat pencerahan. Ia mulai terbiasa mendengar adzan setelah mendengar nasehat dan kata-kata yang menyejukan dari Tuanku Imam. Berkat support Tuanku Imam juga bujang mulai mengumpulkan tenaga dan kekuatan untuk melawan Basyir. Padahal sebelumnya ia sudah berputus asa. Ia memanggil teman-temanya. White, Si kembar, dan yang lainya. Semua bersatu lalu menyerang Basyir. Mereka hampir saja terdesak dan terkalahkan. Takkala itu merek menyerang dari lantai atas, tengah dan bawah. Bujang menyerang di bagian Tengah karena diyakini disanalah Basyir berada. Disaat Bujang terdesak dan hampir terkena senjata mematikan dari Basyir, tiba-tiba ada sesuatu yang berbeda yang dirasakan Bujang dan ia pun mendadak bisa menghilang. Jujur tertinggi samurai mampu ia kuasai saat itu. Lalu ia pun mampu melumpuhkan Basyir. Dan teman-temanya yang lain yang berada di atas dan di bagian bawah gedung yang awalnya juga terdesak, mereka juga mendapat bantuan mendadak dari Salonga. Yaitu senjata berpistol. Akhirnya mereka benar-benar mampu menaklukan semuanya dari atas, bawah, dan tengah.
Bujang telah menyelamatkan keluarga Tong. Sekarang ia sudah menerima apapun keadaan kelurga dan masa lalu keluarganya. Ia pulang ke talang tempat orang tua nya. Ia pergi ke Kuburan ayah ibunya. Di sana ia benar-benar merasa telah Pulang. Ia mengadu di pusara ibunya. Dan Berkata bahwa ia sudah pulang lagi kepada Ibu nya, kepada desanya tempat ia di besarkan, dan pulang kepada Tuhan.
So, Begitulah ceritanya. Maaf kalau ada yang kurang sesuai. Untuk lebih tau gimana cerita lengkapnya silahkan baca aja novel itu sendri sampai tuntas. Dijamin ketagihan baca novel Tere Liye baca juga: Sinopsis Novel Bulan

0 komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Mengenai Saya

Foto saya
Perkenalkan, saya seorang Mahasiswa UMB prodi KPI, announcer di 104,3 radio Jazirah FM, seorang aktivis IMM, Aktivis dakwah KompaQ, serta memiliki hobi nulis dan baca. Untuk kenal lebih lanjut, Kamu bisa mengunjungi ku di Facebook: Nengsih Hariyanti Whatsapp/Telegram: 081532485541 Instagram: @nengsih_hariyanti Email: nengsihhariyanti@gmail.com Twitter: @NengsihRianty2

Biarkan Berlalu

Terlalu pahit untuk ku kenang Sepenggal kisah masa lalu kita Biar ku perlahan beranjak pulang Tinggalkan puing rasa Tak usah acuhkan...