Rabu, 10 Oktober 2018

Diaryku

Sejak saat itu engkau menghilang

Menyisakan sedikit cinta dan luka yang seiring datang.

Ntah kapan aku akan melihatmu lagi

Mengukir indahnya senyum beserta tawa gurihnya yang menggoda.

Ini salah ku. Tak harusnya aku ungkapkan rasa disaat ia sedang berputus asa.


Diaryku..

salahkah jika aku miliki rasa ini?

salahkan aku mencintai?

Kau pikat aku dengan pesonamu

Kau beri angin segar disaat angin kematian kurasa menghembus menusuk jiwa
Diaryku

Engkau pergi tak tau rimba

Mencoba hapus jejak daku yang termangu sepi

menyesali dibawah lengkungan indah pelangi

Andai aku bisa, aku ingin mengulang waktu
Read More

Perjuangan Terindah

Palang itu berdiri tegap menyapa

Selamat datang di dunia barumu!!

Selamat tinggal dari dunia nyamanmu!!

Selamat jalan kisah huru hara mu!!


Aku masih belum percaya aku akan hadir disini

Menyambut mimpi kecil yang dulu sempat mampir di sanubari

Lalu menghilang dengan tiadanya jalan untuk meraih mimpi


Sekarang aku berdiri disini

Menatap tulisan di palang itu lamat-lamat

Akan banyak hari yang aku lewati disini

Akan banyak kisah yang aku tinggalkan disini

Dan akan banyak cerita yang aku korbankan demi sebuah palang ini


Bukan tentang cinta bukan tentang benci

Ini tentang perjuangan.

Sebuah perjuangan yang paling indah

Peperangan tanpa lawan melainkan diri sendiri


Aku hanya takut tak mampu memegangmu erat

Tatkala kuraih kau dengan genggaman nekat

Apakah ini peluang yang bersanding dalam kata kesempatan?

Aku berazzam!!


Sekali kau ku genggam erat,

Takkan ku lepas meski hanya sedikit pun

Kau akan menjadi cinta terindahku

Ayat-ayat cinta terindah dari Rabb-ku


Maa fii qolbi Ghairullah

Bantu aku dalam memegang hal yang besar ini

Dia yang akan menghantarkanku ke surga

Atau malah menyeretku ke neraka

Aku takut!!
Read More

Apa kabar tuan?

Tuan apa kabar mu?
Masihkah kau ingat aku?
Aku yang dulu kau tinggal ketika hampir kau gapai
Hatiku yang pernah kau buat luluh
Namun kemudian lantak manakala sudah dititipkan kepadamu

Tuan?  Apa kau sehat-sehat saja?
Masih kah kau sama seperti dulu?

Maaf tuan,  aku hanya sekadar ingin menyapa.
Barangkali ada asa yg tersisa
Meski kau tak lagi ada dalam do'a
Telah Hilang dimakan masa
Dan kau hanya bagian dari kisah lama
Read More

Untuk mu, aku rindu..

Untuk mu tulang punggung di masa depanku,
Tau kah kamu aku rindu?
Iya,  aku sungguh merindukanmu.
Namun rinduku tiada bertuan.
Do'a ku tiada bernama.

Kau sedang apa? 
Di belahan bumi mana?
Apakah kau dekat di sekitar ku,  atau malah jauh dari jangkauan ku.

Aku rindu.. 
Namun hanya mampu menjeritkan rindu di batas kerongkongan.
Aku rindu. 
Namun hanya mampu menggelorakan rindu di lirihan do'a.

Aku menunggumu.
Entah kapan engkau menjemputku.
Datanglah..
Dengan segala keberanianmu. Dengan semua rasa tanggung jawabmu.. Aku rindu.

Untukmu yang ada dimasa depan ku,
Yang kan mencintaiku dengan sepenuh jiwa dan raga, 
yang kan mencintaiku karena Cinta kepada Rabb kita.
Yang bukan karena aku dan kamu menjadi kita,  namun karena Allah aku dan kamu menjadi kita, 
aku rindu.

Untukmu yg namanya sudah tertulis di lauhul mahfudz,
Jaga diri,  akhlak dan agama mu baik2.
Aku menantimu dg semua metamorfosisku.
Smoga Allah selalu menjagamu dan menuntun mu segera ke arahku.

Dan bila masanya telah tiba,  kan ku serahkan segenap hati hanya kepadamu.
Untukmu, aku calon tulang rusuk mu sedang merindu.
Read More

Senin, 01 Oktober 2018

Mengenal Sensor Mandiri Bersama Lembaga Sensor Film (LSF) RI dan Blogger Bengkulu


Assalamu’alaikum wr.wb

Halo, apa kabar semuanya, kali ini aku mau sharing tentang kegiatan kita tempo lalu yaitu pada acara mengenal sensor mandiri kerja sama antara Blogger Bengkulu dan LSF RI.

Ok, sebelumnya apakah teman-teman semua tau apa itu yang dimaksud dengan sensor film atau mandiri?

Hem.. aku pertama kali tau istilah sensor film itu ketika zaman masa kecil dulu ketika nonton film di CD. Nah sebelumnya film itu tayang, pasti sebelumnya ada tulisan “Film ini telah lulus sensor”, dengan tulisan yang gede dan warna biru gitu. Hayoo siapa yang punya pengalaman sama kayak aku?...

Nah seiring dengan bertambahnya usia dan semakin tingginya pendidikan, akhirnya aku tau apa itu sensor secara tidak langsung. Yaa kalau dalam bahasa kepenulisan itu sama kayak editing gitu. Artinya ada beberapa gambar, adegan, audio, dan beberapa lain nya yang harus di sensor (ditutup, dikurangi, atau dihilangkan). Sehingga pantas dan layak untuk di tonton. Contohnya sensor gambar atau adegan yang mengandung unsure pornografi.

Nah tepat di hari Rabu tanggal 26 September kemaren, kita juga diajak kenal lebih jauh dengan apa itu istilah sensor. Khususnya sensor mandiri.


spanduk acara
Kegiatan ini yang menjadi Narasumbernya adalah Ibu Mildaini (Founder dan ketua umum Blogger Bengkulu) dan Ibu Noor Saadah (anggota komisi II LSF RI).

Kita kenalan dulu sama mereka berdua yukk..

1. Milda Ini


Ibu Mildaini ketika menyampaikan materi
Beliau ini adalah seorang ibu dengan  tiga orang putri. Lahir dan besar di Bengkulu. Keturunan Serawai dan Rejang Kapahiang. Ibu Milda ini memiliki hobi menulis dan ngeblog. Dan saat ini sudah panyak sekali karya tulisan dalam bentuk buku yang beliau terbitkan. Yaitu sekitar 23 buku antologi dan 6 buku solo. Buku terbaru ini di tahun 2018 berjudul Smart and Happy Mom yang diterbitkan oleh Tinta Medina. Dan masuk ke dalam best seller. Keren yaa..

Saat ini Ibu Milda diberi kepercayaan untuk memegang beberapa amanah. Yaitu:

a. sebagai Founder dan ketua blogger Bengkulu

b. Ketua Relawan TIK Prov Bengkulu

c. Badan Pengurus Pusat Forum Lingkar Pena

d. Penasihat Forum Lingkar Pena

e. Manager Blogger FLP

f. Koordinator Bengkulu Emak-emak Doyan Nulis

Ibu Milda saat ini bertempat tinggal di Perumahan Sopo Indah , Jalan Halmahera. Surabaya. Nah, kalau mau bermain dan sharing tentang dunia blogging dan kepenulisan boleh main-main ke rumah beliau ini yaa. ?

2. Noor Saadah, M.Kom


Ibu Noor ketika menyampaikan materi
   Ibu Noor lahir di Banjarmasin, menuntaskan studi S1di FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya (tahun 1986) dan S2 Ilmu Komunikasi  Universitas  Indonesia  (tahun 2008). Beliau ini mengisi   masa mudanya dengan berbagai kegiatan penelitian, seperti menjadi tim Riset untuk KIP (Kampong Improvement Program) oleh UNDP dan FISIP Universitas Airlangga, tim  riset  Semen Gresik untuk Lingkungan Hidup oleh Semen Gresik dan FISIP Universitas Airlangga. 

Selanjutnya pada tahun 1991-1997, Ibu Noor pernah menjadi produser di beberapa  stasiun   televisi nasional. Diantaranya menjadi produser acara Warna Warni (variety show) di RCTI, Tebak   Gambar   (game   show)   di   RCTI, Russian  Roulette  (game show) di  Trans TV, Chance Of a Life Time (game show) di SCTV, Timang-Timang  (magazine  format) di  TV7, Who Wants To Be A Millionaire di  RCTI, Super Milyarder Tiga Milyar (game show)  di    Antv, dan  sebagainya. Wahh., banyak yaa..

Nah.. Sebagai ahli  bahasa, Ibu Noor  juga sering menjadi penerjemah freelance untuk jurnal dan artikel Pendidikan. Kemudian, beliau juga pernah menjabat sebagai Komisioner KPID DKI Jakarta (2010-2014) dan Staf Ahli di DPR-RI (2008-2009). Di LSF, kini beliau menjabat sebagai Anggota Komisi II, Bidang Hukum dan Advokasi.

Gimana? Sudah pada kenalan kaann dengan beliau berdua yang keren ini?

Kedua narsum ini mengajak semua kalangan agar sama-sama melakukan sensor mandiri terutama bagi anak-anak dengan memilih tontonan yang berkualitas bagi mereka.




mumpung lagi di Konakito, numpang foto dikit. hehee (liat ke atas, kali aja ada lalu lintas cicak. wkwk)

Sensor mandiri dilakukan mulai dari diri kita sendiri ni teman-teman. Apalagi sekarang stasiun tv sudah punya label masing-masing di chanel mereka. Ada yang label BO (Bimbingan Orang Tua), SU (Semua Usia), 13+,  17+, 21+.

Mulai sekarang, yuk kita lakukan sensor mandiri dari diri sendiri dan keluarga. Karena Lembaga Sensor Terbaik adalah Keluarga. Yapp.. mau film nya udah dikasih batasan usia sekalipun, jika tidak diindahkan dan diperhatikan oleh keluarga, maka semua itu tetap aja sia-sia.
 
 
foto bersama usai materi

 Mungkin itu saja yang dapat aku sampaikan. Terimakasih sudah membacanya hingga selesai ya.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Disclaimer: Tulisan ini diikutkan dalam #nulisserempak yang diadakan oleh Blogger Bengkulu bersama LSF RI
Read More

Hilir

Dia berjalan sempoyongan.
Keluar..
Masuk..
Lalu Keluar.. 
Dan kemudian Masuk lagi .

Lalu bercerita panjang lebar.
Kupasang telinga meski sesungguhnya aku tak sanggup mendengar ceritanya.

Hatiku teriris.

Kembalilah seprti seharusnya.
Read More

Minggu, 30 September 2018

“Rukyah Nur Hidayah”


“Diba, apa kabar?” tiba-tiba Umi mengirim pesan kepadaku setelah sekian lama kami tiada berkabar.

“Alhamdulillah, Baik mi. Umi apa kabar?”, balasku.

“Alhamdulillah umi baik juga. Oya, minggu depan hari Selasa umi ke Bengkulu, Nak”. Pesan nya masuk lagi.

“Oh ya, ada acara apa mi?”, tanyaku.

“Umi mau check up Adek Iyah”.

“Oh, iya mi. Kabari aja yaa. Nanti Diba mau ketemu juga sama Dek Iyah”. Jawab ku.

“Iya”

Yapp… Umi adalah wali kelas ku tatkala masih MTs dahulu. Umi yang baik hari dan peduli dengan semua muridnya. Umi juga adalah Ibu dari salah satu teman ku. Jadi semua orang biasa memanggilnya Umi. Dan Adek Iyah, umur nya baru 3 bulan. Ia bukan anak kandung Umi. Ia adalah anak angkatnya. Bayi malang yang ditinggal meninggal ibu kandungnya tak lama setelah ia dilahirkan.

Namun beberapa hari setelah umi mengirim pesan kepadaku, tiba-tiba saja beliau mengabari bahwa beliau sedang di jalan.

“Assaalamu’alaikum, Diba. Umi sekarang sedang di jalan. Adek semalam nangis nggak ada berhenti. Dia diare. Umi menuju rumah sakit”. Pesan umi sambil mengirimkan alamat rumah sakitnya.

“Ok Mi, nanti usai kuliah Diba langsung menuju lokasi ya”.

“Ok”.

Dan akhirnya usai kuliah aku langsung menuju rumah sakit dimana Dek Iyah dirawat.

“Gimana kabar Adek, Mi?”, tanyaku langsung setelah sampai dan menyalami umi.

“Sudah di tangani dokter, Nak. Katanya tidak apa-apa. Padahal semalam suara Adek bahkan serak karena nangis mulu, Umi kan cemas. Apalagi di mobil tadi Adek sesak nafas. Ina saja sampai nangis. Khawatir adek pergi”, jelas Umi berkaca-kaca. Ina adalah anak kandung Umi yang bungsu. Umi memiliki 4 orang anak.

“Ohh… Iya Umi. Alhamdulillah kalau Adek tidak kenapa-kenapa”,  jawabku lega.

Lalu aku menatap wajah mungil, kulit putih dan lucu itu. Ia balik menatapku. Entah apa arti tatapan itu. Matanya bulat dan tajam sekali. Tangannya sedang di infuse. Matanya berair. Pasrah dengan apa yang dilakukan dokter. Tak terbayangkan oleh ku betapa sedihnya Umi melihat anaknya yang masih bayi di infuse. Anak yang sudah dianggapnya seperti anak sendiri. Apalagi selama ini Umi memang ingin punya anak lagi. Umi ingin punya anak 5. Namun dokter melarang karena itu akan mengganggu kesehatan Umi. Umi dulu pernah sakit keras.

Dedek Iyah menginap di rumah sakit. Lalu aku pun berpamitan untuk pulang. namun sebelum pamit, Umi memintaku mencari orang yang bisa merukyah Adek Iyah.

Aku pun menyanggupi. Karena aku punya salah satu kenalan ustadz tempat biasa orang-orang sering merukyah.

Malam nya aku menghubungi Ustadz Dayat. Sebelumnya beliau menanyakan yang sakit perempuan apa laki-laki? Jika perempuan maka akan ditangani langsung oleh istrinya.

“Dia perempuan pak ustadz. Masih bayi.”, Jawabku.

“Baiklah. Besok datang ke rumah bapak ya. Usai dzuhur. Atau kalau enggak, di masjid saja. Masjid nya dekat dengan rumah bapak”, kata Pak Ustadz memberi pilihan.

“Di masjid juga boleh pak”.

“Baiklah kalau begitu”, akhirnya malam itu kami berjanji untuk esok nya langsung ke masjid dekat rumah Pak Ustadz. Namun sebelumnya Ustadz sudah memberikan alamat nya secara lengkap dan mudah didapatkan.

Esok harinya, usai kuliah juga, aku langsung ke rumah sakit lagi menemui Umi. Sampai disana, ternyata Umi sudah berkemas untuk pulang. Namun sebelum pulang, kami ke lokasi rukyah dahulu. Aku didepan sebagai penunjuk jalan. Sementara mobil umi yang disupiri oleh Abi dan ada Adek Ina di dalam nya mengikuti ku.

Kisaran 20 menit perjalanan kami sampai ke lokasi masjid itu. Abi langsung memarkir mobilnya. Lalu kami melaksanakan sholat dzuhur dahulu di masjid itu secara bergantian. Tak lama kemudian Ustadz Dayat datang disusul oleh istrinya.

Istrinya bercadar dan ramah sekali kepada kami. Beliau mengambil adek Iyah di pangkuanya. Dek Iyah nurut saja. Namun lama-lama ia menolak dan menangis. Lalu Iyah diambil oleh Abi.

“Jadi gimana, Bu?”, Tanya Pak Ustadz serius setelah sebelumnya bertanya kabar dan darimana.

Lalu disanalah Abi dan Umi bercerita secara bergantian. Aku hanya mendengar. Sebenarnya aku sudah tak kisah Dek Iyah sebelumnya dari Umi. Namun secara lengkapnya baru aku ketahui sekarang.

“Jadi gini Pak, Iyah ini sebenarnya bukan anak kami. Dia adalah anak salah satu orang yang bekerja di kebun kami..”, Umi mulai bercerita.

Disanalah aku mengetahui bahwa Kakeknya Ibu dek Iyah ini adalah seorang dukun. Dan sudah memakan banyak korban dari keluarganya sendiri. Korban sebagai tumbal secara turun temurun. Kakek ibunya Iyah ini masih hidup dan segar meski sudah berusia lanjut.

“Dan Ibu nya Hidayah ini juga menurut penuturan suaminya, juga salah satu korban dari Kakek Ibunya nya (buyut Iyah)”.

Ku lihat Ustadz Dayat hanya mengangguk-angguk saja.

“Iya bu.. dapat kami fahami, Biasanya mereka (Jin) itu memakan tumbal pada malam terang bulan. Lanjut Ustadz Dayat.

“Nah betul sekali itu pak. Ibu nya Iyah ini juga meninggalnya pada malam terang bulan karena sakit perut. Makanya kami begitu cemas ketika Iyah sakit diare parah. Namun diperiksa secara medis malah dokter bilang ia tidak apa-apa”. Tungkas Abi.

Dan disana ku rasakan bulu kuduk ku terasa merinding.

“Dan ketika Ibunya itu sakaratul maut, Pak. keluarganya meminta kami datang ke rumahnya. Ibu Iyah ingin bertemu dengan saya langsung. Lalu disanalah sebelum meninggalnya, Ibu Iyah menitip Iyah kepada saya. Meminta saya menjaga Iyah. Sehingga saya merasa itu wasiat. Awalnya saya tidak membawa Iyah ke rumah. saya hanya memberi perawatan saja pada Iyah. Ia tetap dirawat oleh neneknya. Namun karena kondisi Iyah tak jua membaik seperti orang kurang gizi, akhirnya Neneknya menyerahkan Iyah kepada saya. Dan saya rawat dengan baik. Ketika Iyah saya rawat, saya bacakan sholawat, do’a-do’a, dan ayat-ayat. Banyak kejadian dirumah saya pak. misalnya suami saya pernah melihat kalajengking di dalam rumah. padahal sebelumnya tidak pernah ada kalajengking”, Jelas Umi.

“Iya, betul itu yang ibu lakukan dengan membaca ayat-ayat, sholawat dan do’a-do’a sudah benar. Dan kalajengking itu bisa jadi jelmaan dari jin yang mengikuti Iyah”. Kata ustadz menimpali.

“Memang ada banyak bermacam-macam jenis sihir bu, ada yang keluarnya muntah dalam bentuk paku, ada yang dalam bentuk binatang, ada jimat-jimat yang ditanam di tiap sudut rumah, dan ada juga buhul yang dikirimkan secara kasat mata. Misalnya benang.”, lanjut Pak Ustadz.

“Nahh.. di popok Iyah kami juga menemukan benang pak. tapi saya nggak tau kalau itu adalah buhul. Jadi langsung saya buang”.

“Nah, buhul ini ia tidak akan hilang kecuali dibakar, Bu, dan buhul itu keluar dari tubuh Iyah mungkin karena ibu sering membacanya sholawat dan bacaan-bacaan yang ibu sebutkan tadi”.

Disini aku merasa begitu bergidik. Aku fikir tentang sihir ini hanya ada di zaman dahulu kala sebelum zaman modern. Namun faktanya sampai sekarang juga masih ada. Yapp tak bisa dipungkiri makhluk-makhluk halus, setan dan iblis itu ada untuk menggoda manusia. Mengajaknya ke dalam kesesatan.

“Jadi gimana sekarang pak Ustadz? Agar Iyah bisa terputus dari rantai keturunan itu. Karena kata keluarganya, Iyah ini juga sepertinya akan  dijadikan tumbal kalau tidak kita tolong”. Tanya Umi dengan cemas.

“Iyah masih kecil, Bu. Kita tidak bisa mengusir makhluk yang bersemayam di tubuhnya. Ia tidak akan sanggup. Nanti akan bahaya”, Jelas pak ustadz.

Lanjutnya lagi, “Betul atas apa nyang sudah ibu lakukan. Melakukan rukyah mandiri itu lebih kuat, Bu. Dan lebih mujarrab”, jelas pak ustadz.

Beliau lalu menunjukkan beberapa surat dan ayat agar Umi baca dikala sebelum makan, sebelum tidur, di air minum nya Iyah, dan disekeliling rumah Umi. Dan hampir semua ayat dan surat yang Ustadz anjurkan untuk dibaca, itu sudah Umi hafal dan sebagian sudah beliau amalkan.

“Dan yang terpenting sekarang adalah Ibu harus kuat dulu. Yakinkan Ibu, bahwa tiada yang lebih kuat selain dari Allah. karena ibu yang paling dekat dan sering berinteraksi dengan Iyah. Jangan sekalipun Ibu lemah. Dan ini resIkonya juga besar, Bu. Bisa jadi nanti anak-anak ibu yang lainnya akan diganggu oleh jin yang mengikuti Iyah. Tapi tenang saja. Selagi kita ibadahnya taat kepada Allah, insyaAllah akan selalu dalam perlindungan Allah”, jelas pak ustadz.

“Iya pak. Kadangkala kalau Iyah lagi kumat, matanya melotot seakan marah gitu sama saya, saya ajak ngobrol. Ada apa? Keluar kamu dari tubuh anak saya. Kamu kuat? Allah, Tuhan saya jauh lebih kuat dari kamu”. Lanjut Umi lagi dan mempraktekkan ekpresinya ketika berusaha mengobrol dengan makhluk di tubuh Dek Iyah.

Iyaa.. umi sudah faham akan semua itu. Wajar, karena umi ilmu agama nya cukup tinggi. Beliau juga guru ilmu Al-Qur,an dan hadist di salah satu Madrasah daerah kami.

“Nah, pas sekali ibu. Jadi sekarang yang bisa dilakukan adalah kita terus berdo’a dan lakukan rukyah mandiri untuk adek Hidayah. Semoga dengan begitu nanti makhluk yang mengikuti garis keturunanya juga terputus. Aamiin.” Tutup pak ustadz.

“Baik Bapak, terimakasih banyak pak. Kalau begitu kami pamit pulang dulu pak,” lanjut Abi. Lalu kemudian kami keluar Masjid.

Dan aku menghampiri pak ustadz.

“Maaf pak, gimana dengan biayanya?”, tanyaku malu karena aku bingung memilih kata yang cocok untuk menanyai berapa biaya rukyah ini. Aku takut salah omong karena aku tau beliau ini adalah Ustadz yang sudah banyak membantu orang.

“Sudah.. tidak usah”, jawab ustadz menolak halus dan tersenyum.

“Tapi, Pak?”, tanyaku lagi.

“Iya, nggak apa-apa”. Tegasnya.

“Baiklah pak, kalau begitu terimakasih banyak ya pak”. ucapku terharu.

Lalu Abi dan Umi pulang, sebelum pulang Ustadz menitip pesan kalau ada apa-apa lagi sama adek Iyah, Umi bisa menanyainya kepadaku. Atau minta nomor hp ustadz kepadaku.

Aku menyalami Umi. Dan umi menciumku sambil berbisik, “Makasih ya, Nak..”.

Aku pun membalas Umi lalu mencium Adek Nur Hidayah. Tak terasa air mataku jatuh. Kasian sekali bayi ini. ditinggal ibunya masih bayi. Masih merah badan. Lalu menderita penyakit yang tak dapat diprediksi secara medis sehingga ia tak ubahnya seperti bayi kekurangan gizi. Hidup tidak, mati pun tidak. Namun sekarang ia sudah menemukan keluarga baru yang menyayanginya setulus hati. Apalagi Umi bilang bahwa beliau akan minum obat dokter agar ASI nya keluar untuk menyusui adek Iyah. Agar ia menjadi saudara sesusuan dengan Ina dan dengan ketiga anaknya yang lain yang dua nya adalah laki-laki. Agar nanti ketika besar, tidak menjadi dosa ketika Iyah tidak memakai hijab di depan kedua kakak laki-laki angkatnya. Biar sama dengan Ina.

Memang benar, syirik adalah salah satu dosa besar. Karena telah menyukutukan Allah dengan makhluknya. Di dalam Al-Qur’an dikatakan tatkala Lukman menasehati anaknya:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

baca juga: pentingnya menulis untuk kebaikan

Semoga kita semua dijauhkan dengan syirik dan senantiasa mendapat perlindungan dari Allah. swt atas gangguan semua makhluk.

Dan alhamdulillah, sekarang aku dengar kabar dari Umi, Iyah semakin sehat, pintar dan cantik. Umi terus membacainya ayat-ayat yang diberikan oleh Ustadz Dayat. Bahkan Adek Iyah tidak mau tidur kalau belum dihidupkan murattal hp. Masyallah.. semoga jadi anak yang pintar, sholehah, cantik dan jadi orang yang berpengaruh ya dek. Do’aku. Aamiin..

Dan tak lama kemudian kudengari kabar dari Umi juga bahwa umi sudah mengganti nama Dek Iyah menjadi Amah. Lengkapnya Nur Salamah. Yang artinya cahaya keselamatan. Dan Umi sudah membuang semua baju-baju Iyah yang lama ketika dulu sebelum sama Umi. Itu juga salah satu usaha yang Umi lakukan untuk menghilangkan kekhawatiran Iyah diganggu lagi.

#Kisah ini diambil dari kisah nyata dengan sedikit pengubahan.
Read More

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Diaryku

Sejak saat itu engkau menghilang Menyisakan sedikit cinta dan luka yang seiring datang. Ntah kapan aku akan melihatmu lagi Mengukir indahny...