Latest News

Dakwah

Hikmah

Poet

Cerpen

Recent Posts

Part II: Masa-masa Pelik


"Naf,  ada Putri sama Via di depan, "
Ibuk memanggilku. Ia adalah Ibu angkatku.  Ibu yang pertama kali mengajarkan ku untuk mengenakan hijab. 

Aku bergegas ke depan.  Kutinggalkan semua pekerjaanku.  Ku tinggalkan tungku api yang masih menyala dengan dandang nasi di atasnya.  Ku tinggalkan tumpukan pakaian yang tiap pagi harusnya kujamah sebelum berangkat sekolah di kecamatan sebelah. 

"Yuk.. Titip. Okta yaa.. Putri mau pergi", Putri berpesan. 

Okta adalah adik bungsu kami.  Putri adalah adikku juga. Di atas Okta. Kulihat Okta memegang erat Putri.  Tak ingin lepas.  Dia begitu pengikut terhadap Putri. Kemana Putri pergi dia pasti menangis ingin dibawa. 

Akhirnya dengan sedikit memaksa,  aku menyambut Okta yang masih memegang erat pinggang Putri. 

Lalu Putri pergi. Dan setelah meminta izin kepada Ibuk,  aku pergi ke kebun yang Kisaran 15 menit dari rumah. Karena aku juga harus sekolah,  aku menitipkan Okta kepada Bibi dan Paman yang sudah beberapa bulan ini tinggal di kebun. 

Langit tampak mendung dan mulai gerimis. Seolah menggambarkan isi hatiku saat berada di atas kendaraan roda dua tersebut. 

Ku bawakan motorku perlahan. Melewati jalanan aspal. Lalu masuk ke dalam sebuah gang kecil.  Menemui jembatan yang telah rusak dan bisa menimbulkan bahaya apabila tak diperbaiki. Okta kuikatkan dengan kain di belakang pinggang. 
Lalu masuk lagi ke dalam perkebunan yang dipenuhi semak serta jalan yang licin.  Melewati jalanan yang menanjak,  menurun. Dan tibalah di sebuah gubuk tua perkebunan.  Tempat biasa kami bercakap, mengobrol banyak hal.  Memasak beragam masakan kebun. 

Lengang!!.  Tiada satupun orang disana.  Aku mulai memanggil. 

"Biiii..., Bibiiii... "

Aku terus berusaha Mencari Bibi di sekeliling bahkan aku mencarinya sampai ke sungai. Kebun kami dekat sungai. Mungkin sedang mandi fikirku. Namun hasilnya nihil. 
Pintu gubjk yangbterbuat dari pohon pinang itu memang di gembok. 

Hatiku bergemuruh.  Ingin aku teriak. Ingin menangis sekencang-kencangnya.  Okta kecil. Terdiam melihat ku terus memanggil.  matanya sayu.  Bekas air mata belum hilang dari pelupuk matanya. Dia terduduk saja di atas motor.  Tidak ingin turun kecuali ku ajak turun. 

Hati teriris.  Dia masih begitu kecil. Masih sangat polos.  Bahkan belum genap 2 tahun dan masih menyusui. 

Ku ajak Okta pulang. 
Mulai menghidupkan motor dan kembali ke Talang. Jalanan licin karena rintik gerimis nya makin membesar.  Belum lagi semalam juga hujan turun. Ketika melewati jalanan yang licin,  motor kami terpeleset.  Kami terjatuh. 
Lagi, hati kembali merasa Iba.  Iba terhadap Okta  Iba terhadap keluarga kami. Dan Iba terhadap diriku sendiri.

"Yang sabar wahai diri", aku menyrmangati diri

Aku segera menegakkan motor. Membawanya dengan berjalan. Okta masih mengikutiku. Dia anak yang kuat. Masih kecil sudah harus di uji.

Perlahan, kami keljar dari jalanan licin. Lalu ketika sampai di Talang,  yaitu desa kami.  Pas lewat depan rumah Bibi, ternyata Bibi sudah ada di rumahnya. Aku lalu menitipkan Okta. 

Okta, adek kecilku yang Malang menangis.  Tidak ingin pisah dari ku. Ingin mengikutiku. Namun aku tidak bisa.  Aku harus sekolah juga.  Ku lihat mata-mata memandang kami berdua dengan penuh iba.  Berusaha membujuk Okta. 
"Ayuk mau sekolah.. Okta sama Bibi dulu yaa.. Nanti di jemput lagi sama Ayuk". Mereka membantuku membujuk Okta. 

Ia masih menangis.. Dan dengan tega aku terpaksa meninggalkannya. 

"Ya Allah.. Tolong jaga adek hamba.  Semoga tangisnya segera reda bersama Bibi.  Nanti dia pasti akan aku jemput", Do'a ku dalam hati. 

Ayah.. Harus bekerja mencari nafkah.  Mencari dana untuk pengobatan Ibu.  Dan terutama agar bisa segera menjenguk Ibu yang seorang diri di Rumah Sakit Kota. Kadang aku kasihan terhadapnya. Disaat yang sama ia harus menjaga anaknya yang masih kecil. Lalu otak berfikir bagaimana bisa segera Ibu sembuh dan dijemput.  Namun ia juga harus bekerja. 

Terkadang pulang dalam keadaan lapar dan tiada yang memasak. Kami ... Terbiasa dalam perpisahan. Karena memang tidak tinggal bersama keluarga. Jadi hanya sesekali saja jenguk ayak dan rumah lalu membersihkannya. Kadang membawa masakan untuk Ayah. Sungguh aku benar-benar merasakan Iba dan merindukan Ibu.

Kami semua merasakan sakit.  Sakit yang sama di masa-masa penuh pelik. Masa-masa yang takan terlupakan. 

Sinopsis Novel Jodoh Terbaik


Assalamu'alaikum semuanya..
Kali ini aku bakal membuat sinopsis dari sebuah Novel yang berjudul Jodoh Terbaik. Awal liat Novel ini ketika kita lagi di Masjid At-Tanwir untuk sholat berjamaah. Ehh.. liat novel ini dan baca sinopsisnya. Dan aku tertarik untuk minjam dan baca sampai selesai. Oya, sinopsisnya aku buat menjadi 2 karena permintaan adek tingkat. Sesuai dengan tokohnya masing-masing. Selamat membaca!!..

Judul: Jodoh Terbaik
Penulis: SeolHan-Na
Penerbit: Wahyu Qolbu
Tahun Terbit: 2017
Jumlah Halaman: 395 hlm
Nama Tokoh: Naifa, Azzam, Nadia

Sinopsis

Prolog:

Naifa adalah seorang gadis yang cantik yang tak pernah terfikirkan olehnya untuk menikah muda. namun orang tua telah menjodohkannya dengan Azzam. Seorang pemuda tampan berusia 24 tahun yang sudah menjadi CEO di perusahaan keluarga.

Naifa:


Hasnaifa Almeera Nagita, biasa dipanggil Naifa adalah seorang mahasiswi cantik usia 20 tahun jurusan arsitektur semester 5. Walau masih kuliah, namun orang tua menjodohkan Naifa dengan anak sahabatnya sendiri. Dan demi bakti kepada kedua orang tua, akhirnya ia menerima perjodohan itu dengan ikhlas hati karena ia yakin itu adalah jodoh terbaik yang Allah kirimkan untuknya. 

Baca juga: Review Buku Makrifat Cinta Rabi'ah Al Adawiyah

Perlahan ia mulai mencintai Azzam. Suaminya. Sikap Azzam yang manis, menyayanginya dengan tulus membuat hatinya luluh. Walau demikian ia belum bisa sepenuhnya mempersembahkan dirinya untuk Azzam. Walau dia sudah resmi menjadi istri Azzam. Karena faktor belum siap. Lalu Azzam mengajaknya berlibur dan disanalah akhirnya hubungan mereka makin dekat dan Naifa sepenuhnya untuk Azzam. 

Namun saat mereka sudah saling mencintai, Orang ketiga hadir di hidup Azzam dan Naifa. Namanya adalah Nadia. Ia adalah wanita yang hampir dinikahi oleh Azzam. Namun karena ingin melanjutkan pendidikan yaitu S2 di luar negeri, ia pergi meninggalkan Azzam secara tidak baik. Hubungan Azzam dan Naifa mulai retak. Azzam berubah. Ia cuek terhadap Naifa. Tak peduli lagi. Hal itu karena ia masih sangat mencintai Nadia. Cinta lama yang kembali hadir.

Naifa terpukul. Azzam sakit selama masa cueknya itu. Dan Naifa merawatnya dengan sabar. Namun dalam igauannya, Azzam memanggil nama Nadia. Dan Naifa hanya bisa bersabar. Ketika Azzam sudah sembuh, Naifa bermimpi bahwa Azzam meninggal. dan ketika Azzam berangkat kerja, Naifa memeluknya erat. Disana Azzam mulai tersentuh.
Namun tak lama, Naifa mendengar Azzam kecelakaan dan mengalami kritis. Dan selamat dari Kritis, Azzam mengalami koma. Sempat jantung terhenti yang membuat Naifa pinsan. Namun ketika ia sadar, Azzam telah duduk di kursi roda di sampingnya. Detak jantung Azzam telah terselamatkan.

Dan di masa Azzam koma, Nadia telah menjelaskan semuanya kepada Naifa. Bahwa tidak ada apa-apa di antara mereka. Bahkan Nadia sudah menemukan lelaki yang tepat untuknya. 

Azzam: 


Nama lengkapnya adalah Gibran Muhammad Azzam. Biasa di panggil Azzam. Pemuda sukses yang juga sholeh. Awal perjodohan, Azzam terkejut dan ragu. Namun ia bersedia. Lalu ketika akan melamar Naifa, Azzam terkesima dengan kecantikan Naifa. Disana ia sudah mulai jatuh cinta.

Mereka menikah. Dan perlahan cinta mereka makin bersemi. Namun hadirnya Nadia, Sang kekasih lama yang telah meninggalkanya telah mengacaukan fikiran Azzam. Ia sudah tak bisa lagi fokus kepada Naifa. Bahkan ia merawat Nadia secara diam-diam ketika Nadia sakit. 
Namun Aisyah, Adeknya Azzam dan Alfath, sahabatnya Azzam telah menyadarkan Azzam. hingga saat ia ketika Naifa memeluknya erat sebelum berangkat ke kantor. hati Azzam tersentuh dan merasa iba kepada istri yang sudah di sia-siakannya. Azzam berniat akan menceritakan semuanya kepada Naifa dan memperbaiki hubungannya. Setelah urusannya dengan Nadia selesai. 

Namun naas, Azzam kecelakaan. Ia belum sempat menjelaskan apa-apa kepada Naifa. Namun ia sudah menyelesaikan urusannya dengan Nadia ditemani oleh Alfath.

Epilog:

Setelah semua masalah mereka berlalu, cinta Azzam dan Naifa semakin kuat. 1 tahun telah berlalu namun mereka belum dikaruniai keturunan. Namun ketika Naifa hamil, ia bahkan hamil anak kembar laki-laki. lalu kemudian Naifa juga melahirkan seorang anak perempuan. 

Naifa dan Azzam semakin tua. dan anak-anaknya pun sudah sukses dan akan menikah. Lalu takdir telah menentukan bahwa Naifa lebih dahulu meninggalkan Azzam untuk selama-lamanya. Cinta mereka hingga akhir hayat.

TAMAT

Part 1: Aku juga punya mimpi


Sajadah telah tergelar, doa sujud terakhir selalu terucap.. Pada akhirnya,  salam mengakhiri sebuah kewajiban sekaligus kebutuhan kepada Sang Pencipta.. 

Usai bermunajat kepada Allah.. Entah angin apa yang membuat ku kembali merenungi setiap episode perjalanan.. Terkenang akan semua masa lalu yang mewarnai rotasi kehidupan.. 

22 tahun sekarang. Dan menghitung minggu menuju 23 tahun. Bukan usia yang terbilang muda lagi. Sudah dewasa. Sudah mengecap manis pahit hidup ini. 

4 tahun yang lalu,

Aku baru menerima surat kelulusan. Alhamdulillah 3 tahun sudah berlalu di masa putih abu-abu. Ayah menjemput ku langsung. Tiada waktu untuk coret mencoret pakaian putih abu-abu atau konvoi seperti teman-teman yang lain. 

Setelah menyelesaikan urusan ke suatu tempat, akhirnya aku dan Ayah langsung pulang. Membawa kavar gembira kepada Ibu, Abang, dan Adek-adek..

"Makk..aku lulus!!!", antusias ku memanggil Amak sepulangnya. Wajah bahagia nan penuh sumringah terpancarkan. Beliau menyambut kepulanganku dengan sumringah pula.

Esok lusa, fikiran mulai berfikir keras. Kemana langkah selanjutnya.

"Nanti kamu kerja di desa sebelah aja ya, Naf. Di koperasi. Nanti Mamang coba hubungi dulu teman Mamang", Mamang yang masih kerabat menawarkan pekerjaan kepadaku.

"Nanti Nafla tinggal sama Ibuk juga nggak apa-apa ya.. Kayak Ayuk A yang dulu juga tinggal sama Ibuk. Nanti kuliah di UT aja. Kan kuliah nya hari Sabtu dan Minggu. Nah, selain hari itu, nanti Nafla bisa bekerja", Salah seorang guru yang sekaligus wali kelas yang sudah seperti Ibu sendiri pun menawarkan pilihan. 

Namun tidak lama setelah hari kelulusan, sepulang dari bertandang ke rumah Bibi, aku melihat rumah rame. Keluarga sedang berkumpul. Dan ada 1 Paman yang juga masih kerabat disana.

"Assalamu'alaikum", aku memberi salam.

Mereka menjawab salamku, dan semua mata tertuju kepadaku.

Aku diperintahkan untuk duduk. Aku mendengar semua yang disampaikan. Aku menahan tangis. Mereka semua menunggu jawabanku. Namun aku tak menjawab. Aku bahkan pamit untuk pergi lagi ke rumah Bibi. Aku tak tau harus minta dukungan kepada siapa. Bahkan aku tak tau apa yang harus ku jawab atas pertanyaan mereka di ruang tamu sana.

Beberapa hari kemudian  sepupu ku pulang dari Kota. Menceritakan tentang perkuliahannya yang gratis. bebas SPP. Dan kita hanya bayar uang registrasi saja. Aku begitu antusias mendengarnya. Begitu semangat. Terbayang oleh ku kehidupan di kota yang jauh dari desa. Kuliah tak pakai seragam lagi. Bebas... Terbayang oleh ku anak-anak kuliahan seperti yang sering ku lihat di layar Televisi.

"Nanti biar Ayuk yang urus semuanya, kamu tinggal terima beres. Tinggal masuk kuliah saja", dia kembali memberi ku semangat.

Dia berusaha menjelaskan kepada keluarga ku. Pada orang tua. Terkadang mereka mengangguk tanda setuju. Terkadang diam. Ntah apa yang ada di dalam fikiran mereka. Mungkin yang ada di bayangan mereka adalah seberapa banyak pundi-pundi rupiah yang akan mereka keluarkan untuk kuliahku nanti apabila benar kuliah. 

Aku tau fikiran dan beban Amak lebih banyak ketimbang Ayah. Bahkan yang tak pernah terfikirkan oleh Ayah sekalipun akan difikirkan oleh Amak.

Hari-hari berlalu seperti biasa.  Aku sudah memantapkan hati untuk kuliah ke kota sesuai anjuran sepupu.  Namun hati orang tua masih sangat ragu.  Apalagi mereka sudah mempunyai pilihan sendiri untukku dan telah aku tolak. Aku sangat yakin mereka menyesali keputusanku. 

Saat itu aku tak pernah terfikirkan untuk membangkang perkataan orang tua.  Untuk tak menuruti nasehat orang tua.  Yang kufikir adalah bagaimana aku bisa mengangkat derajat mereka.  Salah satu di keluarga kita harus ada yang "Jadi Sarjana". Ntah darimana berawal, keinginan untuk mengenyam pendidikan yang tinggi itu telah terpatri lama di hati. Dan itu harus dimulai dengan aku.  Aku punya tekad yang kuat untuk itu. 

Namun saat hati sudah mantap,  Kakak kedua Ibu yang tinggal di desa sebelah bertandang ke rumah.  Ngobrol banyak hal hingga membahas tentang rencana kuliahku. 

"Sudahlahhh... Besar biaya kuliah itu. Amak dan Ayahmu takkan sanggup membiayai kamu", beliau dengan teganya mematahkan semangat ku. 

Aku berusaha menjelaskan sebisa ku. Meminta dukungan dan membangun kepercayaan dari orang tua. Walau sungguh,  aku sendiri sudah bisa menebak dari raut wajah orang tua. Dan pada akhirnya aku terdiam bungkam.  Menolak dalam hati setiap perkataan Paman.  Tega sekali beliau berkata seperti itu. Apakah menurutnya aku tak pantas mengecap bangku kuliah?  Apakah dia fikir orang tua ku takkan sanggup membiayai kuliahku?  Ku akui aku dan keluarga orang tak mampu. Tapi bukankah mimpi berhak dimiliki oleh setiap orang? Aku juga punya mimpi. Anaknya juga kuliah dengan biaya yang tak sedikit. Tanpa beasiswa. 

Setelah pembicaraan selesai, aku memilih untuk tidak di rumah.  Sedih sudah pasti.  Semangat ku pasang surut.  Sepertinya mimpi ku untuk kuliah kandas sudah. 

Selang beberapa hari,  Kakak Sepupu lelakiku datang main ke rumah bersama anak dan istrinya. Aku mengobrol dan bercanda bersama mereka.  Kakak menatapku dengan dalam. 

"Jangan Iba hati ya, Dek, kalau kamu nggak kuliah.  Kita harus maklum akan keadaan keluarga kita". Ucapnya sayup.  Namun terdengar begitu jelas. 

Aku tak menjawab.  Tak bergeming.  Namun air mataku jatuh perlahan. Ingin ku sembunyikan namun aku tak mampu.  Mukaku telah memerah. Begitu sedih dan terpukul. 

Sepertinya aku akan mengubur mimpiku mulai dari sekarang.  Mungkin aku akan mengikuti kemauan Ibu.  Mungkin aku akan mengiyakan apa yang telah dimusyawarahkan keluarga di ruang tamu tempo hari. 

Bersambung.... 

Sinopsis Novel Cinta Bersemi di Negeri Sakura


Hallo teman-teman, 2 minggu yang lalu ketika dipenatkan dengan mencari sumber buku untuk skripsi, aku pun akhirnya pergi ke perpustakaan Provinsi atas saran salah seorang teman. Karena buku yang dicari tidak ketemu juga hingga akhirnya azan asar berkumandang, aku pun memutuskan untuk pulang dengan wajah yang agak kecewa. Hehee.. namun rasanya sia-sia jika tidak membawa buku 1 pun. 

Aku pun berusaha mencari novel Islami namun tak jua ketemu. Akhirnya ketemulah 1 rak buku yang disana ada beberapa novel. Walau sayang nggakda novel Islami. Baiklah. Aku memutuskan ambil 2 novel romance. Yosh!! Mari membaca
Nah. Di kali ini aku mau mensinopsis salah satu novelnya yang berjudul “Cinta Bersemi di Negeri Sakura” karya Prudensy Obit.



Judul: Cinta Bersemi di Negeri Sakura

Penulis: Prudensy Obit

Penerbit: CV. ANDI OFFSEt

Tahun terbit: 2010

Jumlah hlm: 216 halaman



Sinopsis:


Namanya Cecilia Anne Rompis. Biasa di panggil Lia. Ia merupakan anak orang kaya berumur 21 tahun. Ia kuliah di salah satu kampus swasta termahal di Jakarta.


Namun nasib malang menimpa dirinya tatkala ia dan teman-temannya berlibur di Singapura. Karena di hasut oleh teman-temannya dank arena merasa gengsi, ia pun mengikuti kemauan teman-temannya untuk membeli tas Gucci mungil  yang tak berguna yang harganya menguras semua isi dompet Lia.

Akibat kecobohan itu, ia tak berani mengakui kepada orang tuanya. Dan memilih untuk menjadi pembantu selama 1 bulan setengah. Di sebuah rumah yang mewah milihk seorang pengusaha Belanda yang menikah dengan wanita Indonesia. Memiliki seorang anak yang tampan yaitu Nathan. Dan seorang putri yang cantik bernama Shinta.


Lia menjalani profesi barunya dengan maksimal meski hampir beberapa kali ia ketahuan bahwa ia adalah anak orang kaya. Ia pun terlibat beberpa kali percakapan sehingga Lia pun mulai jatuh cinta kepada Nathan. Nathan pun sebaliknya. Karena kecerdasan Lia, Nathan meminta Lia untuk memberi slogan untuk beberapa produk minum yang ia kelola dan ide itu diterima dengan antusias oleh Nathan dan Tommy, rekan kerja Nathan.

 baca juga: Numpang Nampang di RRI Bengkulu
Namun pada akhirnya status Lia akhirnya ketahuan juga. Teman-teman Lia yang waktu ke Singapura itu memberi tau Bu Yanti tentang diri Lia. Bu Yanti adalah Bos nya semua pembantu yang ada di rumah Nathan. Lia pun akhirnya terpaksa mengakui semua tentang dia. Nathan kecewa. Lalu mengusir Lia dan meminta Bu Yanti membayar semua gaji Lia secara penuh walau belum penuh jumlah hari kerja Lia. Lia membagi gaji itu ke dalam 2 amplop. Lalu dilettaknya di bawah pintu 2 pembantu lainnya yang menurut Lia mereka lebih membutuhkan. Lia hanya mengambil 1 lembar uang 100 saja untuk ongkos dia pulang. dan dia akan mengakui semuanya kepada orang tuanya. 

Waktu kian berlalu. Namun rasa cinta Lia kepada Nathan belum juga padam. Lia di terima untuk melakukan penelitian di negeri Sakura. Bahkan ia berambisi untuk melanjutkan S2 disana. Disana ia bertemu dengan teman lamanya yang juga menaruh hati pada Lia. Namun Lia masih mencintai Nathan. Bekas majikannya.

Dan hingga akhirnya Nathan pun menyusulnya ke Jepang lalu membawa Lia ke Belanda untuk diperkenalkan dengan keluarganya disana.


5 Aplikasi andalanku


Assalamu’alaikum wr.wb
Hallo teman-teman, aku pengen nanya nich, kamu punya nggak sich aplikasi andalan di android mu? Itu tuch, aplikasi yang banyak membantu pekerjaan kita. yang kalau aplikasi itu nggak ada, maka hp kita terasa kurang lengkap. Nahh aku punya tuch beberapa aplikasi yang menjadi andalanku. Kecuali medsos lo yaaa. Apa saja? Ini dia:

1. Canva


dengan canva, kita bisa berkreasi infografis sekreatif mungkin
Yes.. blogger mana sich yang kenal dengan aplikasi canva? Hehee.. ini andalannya banget para blogger dalam hal edit gambar, pembuatan header, instagram, dll.. pokoknya paket komplit mah di instagram. Di canva ada yang gratisan dan ada juga yang premium. Nah kamu punya juga kah aplikasi ini?

2. Al-Qur’an Indonesia

Al-Qur'an Android
Aplikasi Al-Qur’an ini sangat membantu buat aku. Bukan untuk membaca Al-Qur’an di hp ya. Karena lebih baca Al-Qur’an itu ya Al-Qur’annya langsung. Bukan lewat hp. Trus kenapa membantu? Karena kan kami di asrama ada jadwal piket tuch. Salah satunya adalah menghidupkan Adzan dan Murattal menjelang magrib. Nahh.. ini andalan banget bagi aku. Hehee.. karena aku nggak perlu buka youtube atau download muratttal dan adzan lagi yang bisa memakan kapasitas ram di hp ku. hehee

baca juga: 3 Hal yang ingin aku pelajari lagi


3. Chrome
                      


Yuhuu.. siapa disini yang kalau ada masalah di dalam kehidupan bertanya kepada mbah Google?? Yapp.. aku juga salah satunya nich. Hehee.. kalau ada apa-apa pasti nanyanya ke mbah google nich. Melalui chrome. Jadi aplikasi ini juga sangat membantu menjawab pertanyaan.

4. Kinemaster


Editing Video
Okay aku juga udah lama punya aplikasi ini. saat iseng edit-edit video. Nahhh sekarang makin suka nich kalau ada egenda, aku mengabadikan lewat video. Yaa senang rasanya ternyata lihat hasil edit video karya sendiri. Dan lebih puas di kinemaster menurut aku. Bisa edit video dan foto sekaligus.

5. Inshoot

Sebenarnya aplikasi inshoot ini bisa buat edia video juga edit foto. Namun aku lebih sering edit foto kalau di inshoot. Edit foto biar instagram aku lebih rapi. Hehee..

Nahh.. itu yaa 5 aplikasi andalan aku yang wajib ada di hp aku. Hehee..

Kalau kamu aplikasi apa saja nich? Share yuukkk..

Disclaimer: Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kegiatan #NulisSerempak11 dari Bloggerbengkulu.com

Noted: All Pic by Canva

Pelangi setengah lingkaran



Senja itu baru saja turun hujan deras, dan di dalam hujan itu matahari seakan bergegas bersinar. Padahal seharusnya ia tenggelam. Aku membatin sepertinya sebentar  lagi akan ada pelangi. Oh indahnyaa.. pelangi di senja hari.

Aku sangat menyukai pelangi. Begitu banyak ciptaan Allah yang indah di dunia ini. Tapi bagiku, pelangi adalah ciptaan Allah yang sangat indah. Di senja ini, aku lagi-lagi melihat keindahan itu.. entah mengapa pelangi seakan memiliki kesan tersendiri bagiku. Aku memiliki kisah di balik pelangi yang sangat aku kagumi.

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh kakakku dari belakang

“Hey… melamun aja ni, udah senja tau, bentar lagi juga maghrib. Ayok pulang” Tiba-tiba Kakakku, Arini, menepuk pundak dari belakang yang membuatku kaget.

"Eh, ayuk ni ngagetin saja. Bentar yuk.. aku mau lihat pelangi. Tu udah ada sedikit, sebentar lagi pasti pelanginya sempurna” jawabku.

“Hemm… Ranti, kamu masih mengingat pelangi itu?”

“Maksud ayuk, Nanda??”

“Yaaa siapa lagi? Bukankah dia pelangi yang berpijak di tanah yang kamu kagumi, selain dari pelangi di langit itu?” ucap kakakku sambil menunjuk kearah pelangi yang tadi aku kagumi.

Kakak perempuanku ini selalu tahu tentang diriku karena ialah tempatku selama ini curhat.

“Ayuukk… aku masih mengingat dia. Jujur aku masih mengaguminya walau aku sendiri tidak tau apakah dulu dia juga mengagumiku atau tidak. Bahkan aku pun tidak berani mengungkapkanya. 

Sekedar memberitahu apa yang aku rasa. Selama ini aku bertahan dalam diam. Bahkan hingga saat ini, aku masih saja berkomunikasi dengan Nanda meskipun hanya di media sosial saja. Dan tak sekalipun kami membahas tentang perasaan!”

“Kenapa kamu nggak jujur saja tentang perasaan mu sama dia?”

“Nggak yuk.. aku nggak berani.”

“Kenapa? Apa perlu ayuk yang kasih tahu dia tentang perasaanmu”

“Yaa karna selama ini kami tak lebih dari kakak dan adek. Dia perhatian sama aku karna dia menganggap aku adeknya. Tak lebih. Aku khawatir nanti hubungan kami jadi nggak akrab lagi”

“Ranti sayang… sudahlah. Mungkin benar sekarang bukanlah saat yang tepat. Nanti suatu hari kamu pasti menemukan saat yang tepat itu koq!” hibur kakakku

Hemmm.. tak terasa ternyata pelangi cuma ada setengah. Dan berangsur pula Magrib datang. Kami pun meninggalkan pantai tempat kami menghabiskan senja hari.

Yaa.. aku tinggalkan pantai. Ku titip salamku kepada pantai untuk lelaki yang aku kagumi, Nanda. Aku tidak tau bagaimana nasib kita kedepanya. Apakah mungkin engkau akan menjadi tulang punggungku dan aku menjadi tulang rusukmu? Tapi aku selalu berdo’a kepada Allah agar kita di pertemukan dengan orang yang baik di matanya..

Pantai.. titip pelangiku di senjamu.

Setibanya di rumah, setelah salat magrib, aku kembali membuka diary-diary dan album foto di lemariku. Entah mengapa pelangi itu mengingat masa-masa putih abu-abu 4 tahun yang silam. Karena pelangi di senja itu, membuat aku teringat dan mengingat kembali masa-masa indah yang aku rasakan.

4 tahun yang lalu, disaat kami sedang sibuk dengan ujian praktek kelas 3 MAN, kami dapat tugas dari guru agar mencuci semua foto teman-teman sekelas. Lalu menempelnya di dalam sebuah album besar, langsung dengan biodata teman-teman serta kesan dan pesan nya untuk kami. Aku membuka lagi album itu. Dan hati menuntun ku agar segera mencari nama Nanda. Terpampang jelas foto nya disana. Tidak terlalu ganteng, tidak juga jelek. Tapi dia terlihat manis. Semanis sikapnya kepadaku selama 3 tahun kami menghabiskan waktu bersama di putih abu-abu.

Lalu, ada kesan dan pesannya untukku. Kesan nya dia senang bisa kenal dengan aku. Dia bangga punya sahabat sekaligus adek sepertiku.  Dan pesannya.. sebuah lirik lagu yang tak asing di telinga, hanya di robah sedikit lirik akhirnya.

Menarilah dan terus tertawa,
Walau dunia tak seindah surga,
Bersyukurlah pada yang kuasa
Cinta kita di dunia..
Selamanyaaaa..

Itulah pesannya untukku. Ahh… mengingat lagu itu membuatku merasa rindu lagi kepada nya. Bahkan tak jarang kadang air mata ini menetes mengingat dia yang jauh disana. Dia selalu ada di saat aku membutuhkan. Mendengar curhatku, membantuku mengerjakan PR, bahkan membantu urusan pribadiku disaat aku lagi ada masalah di keluarga.

Yaa.. aku banyak masalah dalam keluargaku. Yang membuat aku tak bisa pisah dari tangis air mata dan kesedihan.

Orang tua yang pisah, dan kami yang menderita.

Jujur.. aku tidak mengerti. Mengapa mereka berpisah? bukankah dulu mereka yang berkomitmen untuk membangun rumah tangga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah?. Tapi sekarang buktinya mereka tak lagi bersama dengan hanya menyisakan puing-puing kepedihan untuk kami. Mereka tidak memikirkan kami. Sejak saat itu aku sangat benci dengan ayahku yang memilih beristri dan berkeluarga lain.

Aku hidup terlunta-lunta, berpisah dengan saudara-saudaraku. Ibuku tak lagi bersuami sekarang. Sejak ia cerai, ia sakit-sakit-an. Dan karna beliau tidak mampu membiayai kami akhirnya kami memilih untuk tinggal bersama orang lain. Orang lain yang mau “memungut” kami. Membiayai sekolah kami. Dengan syarat kami membantu pekerjaan rumahnya. Tak ubahnya seperti seorang pembantu tanpa gaji. Namun, sekolah kami di biayai. Ahh.. itu sudah lebih dari cukup bagiku. Yang penting aku bisa bersekolah dan mewujudkan cita-citaku menjadi seorang guru. Aku ingin menjadi ibu di sekolah dengan banyak anak-anak ku. 

Tapi, ternyata hidup tak semudah yang aku fikirkan. Banyak rintangan yang aku hadapi dalam memperjuangkan studi ku. Ahh,.. aku malu menceritakanya. Aku sempat di katai tak tahu diri hanya karena aku lupa memasak nasi, aku di katai gembel gara-gara tinggal di rumah orang, sempat di usir, lalu pindah lagi ke rumah orang yang lain.

Aku pernah mengalami depresi berat. Merasa sangat takut. Saat itu aku baru menginjak kelas satu MAN. Aku hanya bercerita tentang masalah ku kepada Nanda. Banyak teman-temanku yang menanyakan kepadaku kenapa aku jadi murung di sekolah. Dan tidak ceria seperti dulu lagi? Tapi Ntah mengapa saat itu Nanda yang aku percayai  untukku bercerita. Kepada Nandalah aku ceritakan semua kisah hidupku dari awal. Sejak orang tua ku berpisah hingga saat kejadian itu. Dan Nanda pula lah yang membantuku keluar dari rumah yang membuatku depresi. Sejak saat itu, ia berjanji akan selalu membuat aku tersenyum. Ia akan selalu menghiburku asalkan aku mau bercerita sama dia kalau aku ada masalah.

Kami menjadi sangat dekat dan akrab. Tapi saat itu kami belum mengenal cinta. Kami tak lebih dari sahabat dan kakak adek..  Kami berpisah ketika kami telah mendapat surat kelulusan. Di tambah lagi Nanda yang saat itu dapat pengumuman bahwa ia di terima di universitas favoritnya dulu. Di UNAND. Universitas Andalas, Padang. Sebelum ia pergi, Nanda pernah mengajak ku ke pantai sore hari. Dan aku mengiyakanya. Di pantai, kami banyak bercerita tentang perjalanan kami selama ini dan bagaimana rencana-rencana kami untuk kedepanya. Tepat sore itu ada Pelangi senja yang menyaksikan kami. Dan kami bejanji meskipun nanti kita sudah terpisah jauh, kita harus selalu memberi kabar bagimanapun keadaan kami. Termasuk bila nanti salah satu di antara kami yang menikah. Kami harus selalu memberi kabar dan menjaga silaturahmi. Kami berjanji di bawah pelangi senja di sore hari.

Aku tersadar dari ingatanku. Tak terasa isya sudah tiba lagi. Aku bergegas mengambil wudhu dan melaksanakan solat Isya. Tak lupa aku selipkan nama Nanda di dalam Do’aku. Ya Allah, Ya Tuhanku.. tolong jaga dia kapanpun dan dimanapun dia berada. Aku menyayanginya. Aminn…


Pengalaman naik kendaraan umum dan hal yang harus dipersiapkan


“Yah, Aku naik bus aja yaa.. nggak usah naik travel”, telpon ku pada Ayah sewaktu pulang kampung tempo hari.

“Oh. Yasudah. Kabari aja nanti jam berapa berangkatnya” jawab Ayah.

“Iya, Yah. Besok insyallah mau beli tiketnya”. Ucapku, dan tak lama kemudian aku pun mematikan sambungan telpon.

Saat itu, naik bus adalah alternatif yang aku pilih selain dari naik travel. Lumayan loh ongkosnya kalau naik travel dari Bengkulu ke Mukomuko. Naik bus bisa setengah dari harga ongkos naik travel. Kalo ongkos travel 100 rebu rupiah, naik bus cukup 50 rebu saja. Lagian juga kalau di bus, posisi duduk kan lebih tinggi. Bisa menghirup udara segar. Yaa.. tapi memang gitu. Ada banyak plus minusnya kalau kendaraan umum.

Esoknya aku pergi ke loket Damri di KM 6,5 kalau nggak salah ya alamatnya. Pokoknya nggak jauh dari simpang 4 Padang Harapan. Disana aku nanya tiketnya berapa dan keberangkatan jam berapa sama penjaga loket. Katanya untuk keberangkatan pagi pukul 08.00 harga tiket 50.000 dan pukul 10.00 harga tiket 65.000 untuk tujuan Ipuh. Dan aku milih yang keberangkatan pukul 08.00.

Hampir tertinggal bus


Okay, tiket telah di tangan dan pulang lagi ke asrama. Malam nya aku packing barang seadanya. Karena pulangnya pun nggak lama. Dan esoknya sebelum pukul 08.00 aku sudah bersiap. Untuk pergi ke loket, aku minta antar sama adek di Asrama. Dan berhubung keluarga di kampung memesan buah, akhirnya keliling dulu cari buah yang dimaksud. 

Dan tau nggak apa yang terjadi? Buahnya susah ditemuin mungkin karena masih pagi juga. Dan ketika sampai di loket, ternyata  bus yang aku tumpangi udah siap berangkat. Ya Allah.. hampir saja aku ketinggalan. Bahkan nomor kursi aku pun sudah di ambil sama orang. Tapi yasudah.. yang penting bisa berangkat.
 
pict by: canva
Akhirnya mobil pun melaju. Semua terlihat baik dan aman-aman saja. Hanya saja aku sedikit risih karena di samping ku duduk seorang cowok. Untunglah dia sudah tua. Hehee.. yaa namanya juga kendaraan umum. Mana bisa kita ngatur posisi duduk semau kita. dan di dalam juga ada yang merokok. Waduhh.. aku juga termasuk tak suka rokok dan orang yang merokok di sekitar aku. Tau kann.. efek negative rokok itu banyak banget. Rokok membunuhmu guys.. bukan cuma kamu, tapi juga orang yang menghisap asap rokokmu itu. yasudahlah.. aku pake masker saja untuk menghindari hirup asap rokok secara langsung ini.

Bus berhenti di salah satu rumah makan di Air Muring. Sebagian ada yang makan, ada yang istirahat, dan ada yang sholat. Berhubung waktu itu aku lagi nggak sholat dan juga sudah makan, aku hanya duduk-duduk saja sambil nungguin orang-orang selesai. Okay, sampai disini masih aman.

Mobil Mogok

pict by: canva
Setelah mobil melaju meninggalkan wilayah Air Muring, sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Mobil macet dan kenek serta supir berusaha memperbaiki mobil. Namun tak ada tanda-tanda. Akhirnya semua penumpang disuruh turun. Yang laki-laki pada sibuk berusaha perbaiki mobil. Namun tak kunjung hidup. Akhirnya 1 orang berangkat lagi ke Air Muring mencari alat yang bisa membantu memecahkan masalah dalam kemogokan bus ini. hampir 2 jam kami menunggu. Oh Ya Allah… padahal target ku jam 14.00 paling lama udah nyampe rumah ini. huhuuu.. tak lama turun pula hujan. Walau tak begitu deras, tapi tetap bakal basah kalau nggak nyari perlindungan. Akhirnya kita semua nyari perlindungan.

Tak lama kemudian bus pun hidup dan kita naik lagi dalam bus. Alhamdulillah bisa bernafas lega..

Mobil melaju dengan aman dan lancar di bawah hujan yang begitu deras. Semua pada tertidur kecuali aku. Aku asik melihat hujan dari balik jendela mobil. Wahh.. ternyata benar kata orang, genangan hujan bisa menghipnotis kita menimbulkan kenangan-kenangan masa lalu. Hahaaa.. dudududuuu..

Dan akhirnya nyampe rumah menjelang magrib. Tak apalah. Yang penting bisa pulang dengan selamat saja sudah bersyukur. Alhamdulillah..

Nahh dari pengalaman tersebut,
hal yang harus dipersiapkan kalau teman-teman ingin menggunakan kendaraan umum yaitu:
 
1. Usahakan datang On Time di loket kalau tidak ingin tertinggal bus. Minimal 10 menit sebelum jadwal keberangkatan.

2. Siapkan kantong plastic dan minyak angin. Dikhawatirkan nanti mabuk perjalanan dan bus belum tentu menyediakan kantong medis darurat tersebut. hehee

3. Bawa masker bagi yang tidak suka berbagai bau-bau aneh di dalam kendaraan umum. Terutama melindungi hidung dan mulut dari asap rokok.

4. Jangan lupa kabari keluarga  ketika berangkat dan ketika bus berhenti. Karena kita tidak tau apa yang terjadi nantinya. Jadi biar keluarga tidak mengkhawatirkan kita.

5. Makan dulu sebelum berangkat karena untuk makan di rumah makan itu lumayan loh dana yang keluar. Hehee.. atau boleh juga bawa bekal.

6. Bagi wanita, bawa alat sholat (mukena). Karena kalau sholat di tempat umum itu, kebersihanya minim banget.

7. Jangan lupa baca do’a sebelum berangkat.

Nah.. itu ya persiapan dari aku sebelum naik kendaraan umum. Semoga perjalanan teman-teman menyenangkan. Dan tidak mengalami kemogokan seperti yang pernah aku alami. Wkwk

Disclamer: Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kegiatan nulis serempak dari Blogger Bengkulu
Videos